EDUWISATA: Salah satu yoni di Desa Candisari yang diduga sebagai bagian dari permukiman kuno di masa kerajaan Mataram Kuno. (IST)
EDUWISATA: Salah satu yoni di Desa Candisari yang diduga sebagai bagian dari permukiman kuno di masa kerajaan Mataram Kuno. (IST)

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG— Sejumlah desa di Kecamatan Bansari Kabupaten Temanggung menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Mulai dari wisata alam, pertanian, ternak hingga budaya.

Desa Candisari berpotensi menjadi desa wisata budaya. Sejumlah batuan berukir ditemukan di sejumlah wilayah desa. Dari bentuknya, diduga batu-batu tersebut merupakan reruntuhan sebuah candi. Dugaan ini diperkuat dengan adanya yoni, lingga hingga arca ganesha yang disimpan di salah satu rumah warga. Yang paling unik ada yoni dengan 2 lubang, mirip temuan di Liangan yang memiliki 3 lubang.

“Saya menduga, temuan di Desa Candisari Kecamatan Bansari ini punya kemiripan dengan situs Liangan yang sama-sama merupakan permukiman kuno di lereng Sindoro pada masa Mataram Kuno,” tutur Pemerhati Cagar Budaya Tri Subekso yang melihat benda-benda kuno tersebut bersama Tim 1 KKN Undip di Kecamatan Bansari.

Dosen Pembimbing Lapangan Tim KKN Undip Daud Samsudewa menjelaskan, potensi lainnya adalah pengembangan desa wisata peternakan dan pertanian di Desa Campur Anom. Peternakan desa, pembibitan tanaman produktif seperti cabai dan tomat bisa menjadi alternatif wisata edukasi pertanian selain tembakau.

“Potensi alam yang ada antara lain wisata alam Mijilloka di Desa Candisari, Sidempul di Desa Bansari, gardu pandang Mranggen Kidul dan Sebimo Camping Ground di Desa Mranggen Tengah,” urainya.

Saat ini telah ada kesepakatan untuk membentuk Tim Pengembangan Kawasan Wisata Edukasi Kecamatan Bansari. Tokoh masyarakat Desa Gunungsari, Gigih Gunardi ditunjuk sebagai ketua tim. Rencananya akan digelar festival tahunan Nyadran Sindoro sebagai atraksi penarik wisatawan. (ton)