Agur Yuke Mulia, Si Bapak Robot asal Klaten

153

Yuke lantas mendirikan Rotobot Robotics School di Jalan Kopral Sayom No.23, Karanganom, Klaten Utara.

”Awalnya ada orang yang meminta saya mengajari anaknya membuat robot. Saat itu saya dengan teman-teman sedang mengembangkan usaha peralatan otomasi industri. Waktu itu saya belum memiliki kurikulum pendidikan terkait sekolah robotik,” kata Agur kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (16/2).

Awalnya dia mendidik lima anak sekaligus. Menyewa sebuah rumah di kawasan Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan. Lambat laun, sekolah ini mulai diminati anak-anak tingkat SD dan SMP. Sekarang, Rotobot punya 52 siswa didik yang diampu 15 orang pengajar.

Baru berjalan 1,5 tahun, Rotobot berhasil melahirkan dua anak didik berprestasi. Bersaing di kompetisi tingkat Asia. Dari empat kategori yang dilombakan, dua anak didiknya memenangi tiga di antaranya.

Perkembangan dunia robot Indonesia di mata Agur tak kalah dengan negara-negara tetangga. Persoalannya, setelah lulus kuliah, banyak ahli robotik asal Indonesia yang pilih mengais rezeki di negeri orang. Sebab di negeri sendiri, bakat mereka terpinggirkan.

Harus diakui, biaya jadi tantangan terberat mengembangkan robotik di Tanah Air. Namun di Rotobot, per siswa didik hanya ditarik iuran Rp 600 ribu per tiga bulan.

“Sudah mendapatkan materi dan praktik membuat robot,” jelas pria yang pernah menyabet juara 3 kontes robot Indonesia tingkat nasional kategori robot pemadam api dan desain terbaik pada 2015 silam.

Kegigihan Agur mendirikan sekolah robot dengan menyisihkan sebagian beasiswanya itu dilirik Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sepekan lalu, dia mendapat kunjungan Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati. Dijanjikan formulasi tepat bagi pengembangan pembelajaran robot untuk anak-anak.

(rs/ren/fer/JPR)

Silakan beri komentar.