Saya Ingin Imlek Lebih Membumi

Harjanto Halim

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

“Kalau saya, Tionghoa Indonesia, bukan Tionghoa di China, bukan Tionghoa di Singapura.”

RADARSEMARANG.COM – Dalam sejumlah peristiwa—utamanya politik—isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kerap mencuat. Masyarakat etnis Tionghoa, seringkali menjadi sasaran isu SARA. Padahal, mereka juga berperan dalam mengusung rasa kebangsaan, sama dengan etnis lainnya.

Apa pendapat Harjanto Halim, seorang tokoh Tionghoa di Kota Semarang mengenai hal ini? Berikut petikan wawancara Jawa Pos Radar Semarang dengan pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, akhir pekan lalu.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, bagaimana pandangan komunitas Tionghoa, terutama dalam hal nasionalisme dan persatuan Indonesia?

Jadi sebenarnya sebagai minoritas itu sudah keniscayaan untuk mendukung keberagaman, kebangsaan yang sudah diusung sejak Indonesia merdeka. Jadi, kalaupun ada Tionghoa yang tidak (memiliki rasa nasionalisme), menurut saya mungkin sekarang sudah menjadi bagian yang kecil, sudah jadi pendapat pribadi. Jadi secara umum, (masyarakat) Tionghoa, mereka akan mengusung tema nasionalisme dan keberagaman yang ada di Indonesia.

Dalam beberapa hal, sering ada provokasi-provokasi yang menyasar komunitas Tionghoa. Bagaimana Anda melihat hal seperti ini?

Mungkin ada (provokasi-provokasi terhadap etnis Tionghoa). Tapi, sekarang ini, yang saya lihat, mungkin lebih ke arah agama. Kalau (diskriminasi) etnis, sekarang sudah tidak (banyak). Makanya, dalam Pasar Imlek kali ini, kita juga melihat bahwa Tionghoa, terutama di Semarang ini, sebenarnya sudah membumi sekali. Banyak kearifan lokal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Makanya, ini coba kita angkat lagi, kita ingatkan kembali untuk komunitas Tionghoa maupun komunitas di luar Tionghoa. Seperti (penggunaan) tebu, daun jati.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -