Pernah Kaya Raya Dikelilingi Cewek-cewek Cantik

11530

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Blora

SELEMBAR kertas berukuran setengah folio itu tersimpan rapi di lemari. Sudah puluhan tahun. Si empunya, Soesilo Toer, tak ingat lagi kapan dia menaruhnya. Namun dia bisa memastikan kertas itu diperoleh tahun 1972. Itulah aset yang paling berharga yang dimilikinya sekarang.

Warna kertas itu masih asli. Kuning. Tak ada cacat sedikit pun. Juga tak ada bekas lipatan. Soesilo membungkusnya dengan plastik bersama 12 lembar kertas lainnya. Istrinya memasukannnya dalam kopor yang kemudian menyimpan di lemari pakaian.

Aset paling berharga itu berupa ijazah doktor ekonomi politik yang dikeluarkan oleh The Council of Moscow Institute of National Economy. Tiga belas lembar lainnya adalah ijazah S2, transkrip nilai, serta sertifikat lain yang diperoleh selama kuliah di Rusia tahun 1967-1972. Semuanya menunjukkan bukti bahwa Soesilo Toer adalah ilmuwan bidang ekonomi.

Soesilo fasih berbahasa Rusia. Baik lisan maupun tulisan. Bahkan, dia menyebut dirinya diglosia (menguasai variasi bahasa dalam masyarakat). Selain Inggris, dia juga bisa berbahasa Jerman dan Belanda. ”De Plicht van een Mans is de Mens te Zinj. Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia sesungguhnya,” ungkapnya menyelipkan kata-kata Multaluli dalam bahasa Belanda. Baginya Multatuli tidak hanya menjadi sumber inspirasi bagi Pram, tetapi bagi dia juga.

Tak banyak orang tahu kehebatan Soesilo. Maklumlah, adik Pramoedya Ananta Toer itu kini hidup sebagai pemulung di kota kelahirannya Blora. ”Saya tahu kalau dia adik Pram yang sastrawan hebat itu. Tapi saya tak tahu kalau dia doktor,’’ kata Endang, pemilik toko pakaian di Pasar Pitik Blora. Nyaris setiap hari Soesilo memulung sampah di depan tokonya.

Soesilo bangga sebagai pemulung. Itulah bagian dari manusia sesungguhnya. Menjadikan barang yang sudah tidak bermanfaat menjadi bernilai. ”Saya sejak kecil ngorek sampah. Di Rusia juga begitu. Sebab ngorek sampah sudah jadi bagian dari hidup saya,” tutur ayah dari Benee Santoso ini.

Sebelum belajar ke Rusia, Soes -panggilannya-  sempat belajar ekonomi di Universitas Indonesia. Masuk tanpa tes. Sebab nilainya memuaskan. Matematika dan ekonomi mendapat nilai 10. Sedangkan Bahasa Inggris mendapat 8.  

Soesilo sempat juga mengenyam pendidikan di B1 Ekonomi yang beralih menjadi IKIP di Setiabudi, Jakarta Selatan. ”Dekannya dulu Sumitro Djojohadikusumo, bapaknya Prabowo Subianto. Kalau dosen bahasa Inggris, adiknya Sumitro. Perempuan. Saya lupa namanya,” kenangnya.

Sayang, karena tidak mampu membayar kuliah di UI, Soes hanya bertahan setahun. Baginya biaya perkulihan cukup mahal. Sebanyak Rp 240 rupiah. Padahal bisa dicicil tiga kali. Karena tidak bisa membayar, dia pun kuliah di Akademi Keuangan Bogor. Di bawah Badan Pengawas Keuangan (BPK). ”Dulu memang tidak ada duit. Miskin. Uang pensiun bapak juga tidak ada. Akhirnya saya putuskan kuliah di Bogor,” terang lelaki yang masih kuat bolak-balik Blora Sleman menggunakan motor ini.

Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan negara milik Belanda di Jakarta. Saat itu dia digaji paling tinggi. Posisinya cukup strategis. Sebagai wakil kepala klaim dan asuransi. Layaknya bos, pulang-pergi dijemput mobil. ”Padahal kerjanya ngarang. Lha nggak ada kerjaan,” katanya cekikian.

Nasibnya berubah ketika hubungan Indonesia-Belanda menegang. Pemerintah membentuk Batalyon Serbaguna Trikora. Kebetulan, Soes ingin mencoba ke Irian. Akhirnya dia bergabung jadi sukarelawan.

Oleh Soeharto, Soes diberi pangkat Letnan. Jabatannya sebagai kepala perbekalan. Posisi itu langsung di bawah bimbingan Soeharto. ”Seharusnya saya dapat bintang waktu itu. Eh malah digebuk,” kelakarnya.

Menjadi anggota Batalyon Serbaguna Trikora tidak mudah. Latihannya cukup berat. Khususnya fisik. Setiap hari selama dua tahun digembleng dengan berlari dari kota Jakarta sampai Tanjung Priok. Setelah itu baru latihan perang-perangan di Grogol. Latihan terjun payung di Bandung. ”Baru ke Irian,” ucapnya.

Dari Irian, Soes melirik beasiswa pemerintah Rusia yang disediakan di Perguruan Tinggi Persahabatan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.”Banyak orang yang ingin kuliah di Rusia. Untuk angkatan pertama dan kedua tidak ada tes. Saya masuk angkatan ketiga. Sudah harus tes,” ujar lelaki yang pernah menikah tiga kali ini.

Beruntung, Soes salah satu dari 90 orang yang lolos mendapatkan beasiswa. Padahal yang mendaftar ada sekitar 9 ribu orang. Sesuai bidangnya, dia mengambil jurusan ekonomi politik. Perguruan tingginya itu lantas berganti nama menjadi Patrice Lulumba University.

Karena tidak lulus dengan perdikat cumlaude, Soes pun diminta untuk mengabdi di Rusia selama dua tahun. Dia lantas bekerja sebagai peneliti di salah satu supermarket di Moskow. Setelah itu, Soes menempuh pascasarjana di Institute Perekonomian Rakyat Plekhanov (nama saat iu).

Gelar PhD diperoleh hanya 1,5 tahun. Padahal seharusnya dua tahun. Soes memperolehnya lebih cepat karena dia rajin  membaca banyak buku termasuk berbahasa Rusia. ”Saya ceritakan kisah dalam buku berjudul Sang Guru Pertama karya pengarang Kirgistan. Eh dosennya tidak percaya. Ternyata dia tidak tahu ada buku itu,’’ kenangnya.

Selama 11 tahun di Rusia, Soes aktif menulis. Pernah bekerja di agen berita dan penerbitan (APN) dan Radio Moskow. Selain itu dia juga aktif mengajar badminton.

Gajinya lumayan gede. Dalam sebulan, dia mampu mendapatkan uang 300 hingga 400 rubel. Menulis satu halaman saja mendapat honor 10 rubel. Kalau sebulan menulis 10 lembar saja, dia mengantongi 100 rubel. ”Sudah lebih dari cukup untuk hidup. Padahal untuk hidup sehari, dia hanya cukup mengeluarkan uang 1 rubel. Duit saya lebih-lebih,” katanya.

Soes tak memungkiri di Rusia itu kaya-raya. Hidup bermewah-mewah. Sampai-sampai, setiap minggu dia makan di restoran pancake. Berpindah-pindah dari Bucharest hingga Budapest. Tergantung selera. Saat lulus doktor dia bikin pesta dengan mengundang 200 teman.

Yang dia heran, Benedict Anderson, salah satu tokoh yang mengemukakan konsep nasionalisme, menganggapnya melarat. Kadang-kadang dia menyelipkan uang ketika mengirim data dari Indonesia ke Rusia. Benedict Anderson itulah yang membantu menyelesaikan disertasi. Dia yang mengirim data-data dari Indonesia. ”Karena jasanya, saya memberi nama anak saya Benee. Namun saya tambahi Santoso di belakang namanya. Biar ada Jawanya juga,” tuturnya.

Banyak orang tidak percaya kalau dia kenal baik dengan Benedict Anderson. Dikira mengaku-aku. Padahal betul-betul kenal baik. ”Benedict kan temannya Pram. Nah, waktu itu Pram bilang kalau saya kuliah di Rusia dan minta bantuan. Maka saya tidak akan lupa jasa-jasanya,” paparnya.

Selain menulis, dia juga pernah bekarja di Siberia. Menjadi tenaga brigadir. Tugasnya memperbaiki rel kereta yang diterjang rob sepanjang enam kilometer. Kalau ada kereta datang membawa pasir, dia harus bangun. Jam berapa pun. Kadang-kadang kerja sampai 20 jam.

Yang menyenangkan, dalam dua bulan itu dia mendapatkan gaji Rp 800 rubel. Saking banyaknya dia pakai jalan-jalan berfoya-foya. Tak tanggung-tanggung langsung ke Kutub Utara. ”Mumpung ada dananya dan ada waktunya,” katanya bersemangat.

Baginya pengalaman saat itu begitu menyenangkan. Sebab naik bus menuju Kutub Utara membawa cewek-cewek Siberia yang terkenal cantik-cantik. Satu cowok berpasangan dengan satu cewek.

Di Rusia, kaum lelakinya pekerja keras, perokok, dan peminum. Secara ilmu kesehatan lemah. Makanya cewek Rusia itu suka dengan orang asing bukan Rusia asli. Soes memanfaatkannya sekaligus menjadi kebanggaannya. ”Pram pernah dapat nobel nggak?” dia bertanya kepada wartawan koran ini. ”Baru satu kali kan? Saya malah tiga kali,” katanya.

Nobel yang didapat Soes itu bukan hadiah dari Yayasan Nobel di Swedia. Melainkan  noni-noni Belgia, Belanda, dan Belarusia. Soes pernah menjalin hubungan dengan noni-noni itu. ”Nah itu kan Bel Bel Bel semuanya. Makanya jadi Nobel. Belanda, Belgia, dan Belarusia,” katanya lantas tertawa.

Dia pernah pacaran dengan perempuan cantik bernama Baranova Larisa Aleksandrovna. Dia anak raja gypsi Polandia. Soes bahkan memacarinya hingga 9 tahun. Cukup lama. Mengingat dia hampir 11 tahun di Rusia. ”Saya paling lama pacaran sama Baranova. Bahkan ketika pulang dan akhirnya dipenjara saya masih berstatus pacaran,” ungkapnya.

Waktu itu Baranova masih menjadi mahasiswa. Tepatnya mahasiswa kedokteran. Selama menjalin hubungan, keduanya jarang bertengkar. Sempat berniat ingin menikah. Namun karena suatu hal, hubungan keduanya kandas. Alasan lainnya, kata Soes, Baranova tidak ingin tinggal di Indonesia. ”Ya, tidak jodoh. Jodoh saya malah di Jerman alias Jejer Sleman.” Jawabnya sambil melirik istrinya. Yang dilirik mesam-mesem.  

Soes juga menjalin hubungan dengan Baklazanova. Jururawat dari Belarusia. Selain itu, dia sempat memacari perempuan Belgia bernama Hana Von Au. Baklazanova dianggapnya pacar simpanan. Sedangkan pacar insidentalnya banyak. Salah satunya bernama Hana Von Au. ”Kalau pacar insidental saya banyak. Saya nggak inget. Pokoknya kalau butuh teman, saya ke underground (stasiun kereta bawah tanah) aja. Nyari disana. Kalau cocok, ya udah jalan,” kenangnya.

Namun, Soes mengaku paling berkesan berpacaran dengan Baranova. Selain paling lama, dia mengaku memiliki sikap yang baik dan ramah. ”Waktu saya pulang, Baranova saya minta menemani ke lapangan terbang. Tetapi dia menolak. Katanya malu. Akhirnya saya ajak serep saya. Si Baklazanova. Tukang transfusi darah,” katanya lantas tertawa terbahak-bahak.

Soes bisa memacari cewek-cewek cantik dan berkelas karena dia pintar, ganteng, dan banyak uang. Buktinya ada. Hingga kini masih tertempel di dinding perpustakaan Pataba. Di sana ada satu foto cowok macho. Rambutnya klimis tertata rapi. Njebobok bagian atas. Wajahnya bersih. Bajunya berkerah lebar. Cocok dengan postur tubuhnya.

Semua kejayaan itu kini tak berbekas. Namun dia ingin tetap mengenangnya. Ingin ke Rusia lagi. Bernostalgia hidup bermewah-mewah bersama noni-noni cantik. ”Tapi siapa yang mau bayarin,” kelakarnya dengan tertawa. Istrinya tersenyum dengan memalingkan muka. Bibirnya dinyaprutkan. (bersambung)

(ks/lil/top/JPR)