PEMATERI: English Language Lecture asal Sao Paulo Brazil, Ricardo Riberio, memaparkan pentingnya menguasai budaya lokal dalam upaya menjalin komunikasi antara dua orang berlatar belakang berbeda di auditorium Untidar, kemarin. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
PEMATERI: English Language Lecture asal Sao Paulo Brazil, Ricardo Riberio, memaparkan pentingnya menguasai budaya lokal dalam upaya menjalin komunikasi antara dua orang berlatar belakang berbeda di auditorium Untidar, kemarin. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG–Perkembangan teknologi dan informasi memberikan ruang keanekaragaman budaya semakin lebih dekat. Bahkan, seolah menyatu. Kendati demikian, kedekatan budaya tidak bisa terlepas dari komunikasi intens yang terjalin satu sama lain.

“Penguasaan budaya lokal merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam menjalin sebuah komunikasi efektif antara dua orang atau lebih yang berasal dari latar belakang budaya berbeda. Karena itu, bahasa, komunikasi, dan budaya tidak bisa dipisahkan,” kata English Language Lecture asal Sao Paulo Brazil, Ricardo Riberio, dalam International Seminar and Workshop Series with Shantou University (STU) Faculty Member bertema Current Trends and Isuues in English Language Teaching (ELT), Rabu (14/2) kemarin, di Auditorium Untidar.

Ricardo Riberio atau intim disapa Mas Riki mengatakan beberapa kebiasaan ‘budaya’ orang barat yang mungkin tidak biasa dilakukan oleh orang timur atau Indonesia. Kebiasaan berbeda tersebut, kata Mas Riki, kerap menimbulkan kecanggungan yang akhirnya menjadi kendala komunikasi antarmereka. “Kadang kita perlu memahami budayanya terlebih dahulu, agar nantinya mampu menjalin komunikasi yang lebih baik dan mendapatkan informasi yang kita perlukan.”

Dekan FKIP Universitas Tidar, Prof. Dr. Sukarno, M.Si, menjelaskan, perkembangan isu pengajaran bahasa, selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan teknologi dan informasi dunia. “Pengajaran Bahasa Inggris mengalami perubahan luar biasa dan cepat. Penguasaan prinsip-prinsip dasar, tentu harus dilengkapi dengan update info terkini di lingkup dunia. Maka itu, kami menghadirkan 3 narasumber internasional agar peserta seminar mendapat masukan langsung dan sharing bersama,” jelas Prof Sukarno. Tujuan seminar untuk memberikan metode pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa, mahasiswa, guru, serta dosen yang dikembangkan dengan isu-isu terkini.

Selain Ricardo Riberio asal Sao Paulo, Brazil, narasumber lainnya dan Nick Lischynsky dari Albany University, United State dan Cristine David dari Shantou University. Pada kesempatan itu, Prof Sukarno memberikan buku karyanya, Cross Culture Understanding, A Literact Based Approach kepada salah satu narasumber, yaitu Mas Riki. (cr3/isk)