Isu SARA Jangan Dimasukkan dalam Politik

133

Beberapa pihak membuat sebuah gerakan. Kopral (Purn) Partika Subagyo ikut mengajak masyarakat dari berbagai etnis, untuk membuat sebuah aksi di kawasan Benteng Vastenburg, Rabu (14/2).

Sambil meneriakkan kalimat “Solo Aman” dan mengangkat tinggi-tinggi papan dengan pesan damai.

Papan tersebut antara lain bertuliskan “Selamat Bertanding Merebut Hati Rakyat dengan Program Nyata Menuju Indonesia Sejahtera” hingga “Hertikan Politik SARA Yang Merusak Bhineka Tunggal Ika”.

Tanu Kiswanto salah satu warga keturunan Tionghoa menilai kerukunan antaretnis di Kota Solo sudah lama berjalan dengan sangat baik. Bahkan pendahulunya sudah ikut melawan penjajah pada masa perjuangan silam. kalau ditanya orang, dari mana saya. Dengan bangga saya bilang akan bilang saya ini asli Wong Solo, tegasnya.

Dirinya mengakui bahwa Solo tumbuh dari berbagai background etnis. Yang tinggal di kota inipun kini dari berbagai macam golongan dan kelompok.

”Karena sejak lahir hingga punya anak hidup sudah di Solo, bagi saya tidak ada perbedaan antaretnis di sini. Semua hak dan kewajiban kita sama sebagai warga Indonesia, imbuh Tanu.

Koordinator aksi Bagyo mengakui bahwa tahun ini memang tahunnya politik. Dirinya mengakui isu SARA bisa menghancurkan segalanya. Kalau ini terus menerus dibiarkan negara ini bisa hancur. Karena itu sama saja masyarakat diadu domba satu sama lain. Untuk itu saya ingin menunjukkan kalau Solo tidak bisa dirusak dengan isu SARA, tegas pria yang akrab dipanggil Kopral Bagyo ini.

Untuk itu, dirinya berharap calon pemimpin yang akan berlaga pada pemilihan umum (Pemilu) bisa mengedepankan program guna memajukan kesejahteraan masyarkat. Jangan menggunakan black campaign. Berpolitiklah yang positif dan sehat,” kata Bagyo.

(rs/atn/bay/JPR)