Istimewa karena Keberadaan Kang Lam Tay Ong

293
BERSEJARAH: Pilar Naga dibuat oleh pengukir dari Tiongkok oleh keluarga Touw saat mendirikan klenteng. (LUTFIE HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSEJARAH: Pilar Naga dibuat oleh pengukir dari Tiongkok oleh keluarga Touw saat mendirikan klenteng. (LUTFIE HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Ada yang istimewa di Klenteng Po An Thian, di Jalan Belimbing 3 Kota Pekalongan. Klenteng ini menyimpan sin beng atau dewa yang konon pernah hidup di era Belanda, yakni Kang Lam Tay Ong.

KEPALA Klenteng Po An Thian, Heru Wibawanto Nugroho, 72, menyebut, Kang Lam Tay Ong dipercaya sebagai dewa yang pernah hidup di era Belanda. Sosok Lam Tay Ong, sambung Heru, bahkan pernah menjadi salah satu pejabat besar di Pekalongan.

Po An Thian diperkirakan sudah berusia 136 tahun. Hal itu berpatokan pada keterangan Njo Gie Seng, orang tua Heru. “Saat bapak saya masih hidup, beliau salah satu saksi mata pendirian klenteng ini,” ucap pria yang sejak 2000 menjadi pengurus Po An Thian.

Perhitungan usia klenteng, kata Heru, juga berdasarkan tulisan di atas pintu masuk klenteng atau prasasti ukir. Tertulis klenteng dibuat pada tanggal 15 bulan 5 tahun Imlek 2432 atau jika kalender masehi 1882. Ketika itu, Tiongkok masih dalam kekuasaan kekaisaran Dinasti Qing atau lebih dikenal Dinasti Manchu, dengan ciri khasnya rambut berkuncir panjang.

Po An Thian dulu hanya berupa satu ruangan kecil, yang kini berada di samping kantor yayasan. Sekarang, ruangan yang dimaksud, digunakan untuk ritual umat Budha. Pada masanya, di Kota Pekalongan, ada saudagar asal Tiongkok, bernama keluarga Touw. Rumahnya di Jalan Belimbing No 49. Touw ingin membangun klenteng. Agar tampak megah dan penuh ornamen oriental, ia mengundang seorang arsitek dan ahli ukir dari Tiongkok. Tidak hanya tenaga ahli. Mereka juga membawa bahan baku langsung dari Tiongkok, Termasuk, 4 kayu bulat utuh yang diukir halus.

Dari empat gelondong kayu yang diukir, dua pilar diukir naga, yang kini menjadi pilar naga Po An Thian. Sedangkan dua pilar lain, dipasang rumah keluarga Touw, berupa ukiran burung Hong (Phoenix, red). “Keempat pilar ini semua masih ada, yang dua bisa dilihat di klenteng dan yang kedua lain, sekarang di rumah bapak Soleh Dahlan, yang membeli rumah itu dari anak keturunan keluarga Touw.”