Tuntaskan Pendidikan 12 Tahun melalui Kejar Paket B dan C

1353

SULASTRI  tampak percaya diri ketika meraih buku paket pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan General Manager PT. PLN Kit TJB Ari Basuki. Usianya 40 tahun. Ia tetap semangat belajar Paket B. Sekolah setingkat SMP. Dia maju ke depan panggung untuk mewakili teman-teman PKBM Puna Kawan. Dia tidak minder, walaupun di depannya terdapat penerima CSR lainnya bidang tanggap bencana yang banyak di antaranya masih usia SMA.

”Terima kasih PLN. Akhirnya saya bisa sekolah lagi. Cita-cita saya sejak dulu, akhirnya terpenuhi,” ujarnya sambil menerima buku paket belajar bahasa Indonesia dari General Manager PT. PLN Kit TJB Ari Basuki.

Ia mengaku awalnya malu ketika ingin daftar sekolah paket. ”Sudah tua, mau sekolah malu. Tidak sekolah, rugi. Niat ikhlas mencari ilmu, saya nekat sekolah lagi dengan paket B ini,” ujarnya sambil menunjukkan buku paket belajar.

Sulastri sebenarnya ingin melanjutkan SMP sewaktu ia baru lulus SD. Karena alasan ekonomi, ia memilih langsung nikah. ”Saya sudah izin suami untuk sekolah lagi di paket B ini. Alhamdulilah diperbolehkan. Akhirnya ambil Paket B. Belajarnya juga hanya akhir pekan. Jadi tidak mengganggu keluarga,” jelas Sumarni.

Sulastri tidak sendirian, ia datang dalam launching CSR itu dengan Wahyu Widiyawati. Widiyawati mewakili paket C. Usianya 29 tahun. ”Bersyukur sekali bisa lanjut pendidikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih kepada PLN dan PKBM yang sudah mefasilitasi saya melanjutkan pendidikan,” ujarnya singkat.

Di PKBM Puna Kawan ini usia tertua di Paket B Marwi. Ia kelahiran 1971 atau 47 tahun. Sementara usia termuda di paket yang sama Robika Zaenur Rohman kelahiran 2002 usianya 16 tahun.

Di paket C tertua Kutarkan. Ia lahir 12 April 1972 atau 48 tahun. Sementara termuda di paket sama Umi Kulsum kelahiran 2001 atau 17 tahun.

Ketua PKBM Puna Kawan Nuryadi menjelaskan, CSR PT. PLN Kit B mendanai untuk satu angkatan atau selama tiga tahun. Untuk siswa yang sama sampai lulus. ”Ini sudah berjalan satu semester. Paket B atau setara SMP, semuanya baru kelas VII atau setingkat SMP. Paket C atau setara SMA semuanya kelas X jurusan IPS,” jelasnya.

Peserta program penuntasan pendidikan 12 tahun ini rata-rata dari Desa Tubanan. Sebanyak 72 siswa di Paket B. Sebanyak 233 siswa ada di paket C. ”Khusus paket C dibagi enam kelas,” tambahnya.

Tidak sebagaimana sekolah umumnya, pendidikan paket C dan B dilaksanakan setiap Jumat dan Minggu dari pukul 13.00-17.00. ”Kami ambil dua hari di akhir pekan, karena peserta belajar di PKBM ini rata-rata ibu rumah tangga dan sudah bekerja,” jelasnya.  

Menurut Nuryadi keaktifan peserta paket B dan C sangat bagus. Mencapai 75 persen. Artinya tidak kalah dengan siswa di bangku SMP dan SMA. ”Persentase keaktifan siswa 75 persen ini bukan berarti 25 persen tidak aktif ya. Keaktifan 75 persen ini bergerak, satu siswa ke siswa lain. Tidak monoton. Saya kategorikan bagus karena walaupun usia sudah setingkat kuliah bahkan berkepala tiga tapi masih semangat mengikuti pendidikan,” tandasnya.

Sekda Jepara Sholih mengaku sebagian penduduk di Jepara belum memiliki standar pendidikan yang baik, yaitu lulus SMP dan SMA. ”Saya ingin perusahaan-perusahaan di Jepara bisa seperti PLN. Memberikan CSR sebagaimana kebutuhan masyarakat. Salah satunya melalui pendidikan,” ujarnya.

General Manager PT. PLN Kit TJB Ari Basuki mengaku kejar paket B dan C yang inisiasi PLN bersama PKBM Puna Kawan ini bagian dari usaha meningkatkan sumber daya manusia melalui penyetaraan pendidikan. ”Penyetaraan pendidikan di ring I PT. PLN Kit TJB ini, komitmen PLN kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan kualitas hidup,” jelasnya. (bersambung/*)

(ks/top/top/JPR)

Silakan beri komentar.