Cegah Kekerasan, Tekankan Budi Pekerti

364
PRIHATIN KEKERASAN : Anggota MPR RI Agustina Wilujeng dan pimpinan sejumlah ormas di Jateng usai menerima buku disela Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Wanita Semarang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
PRIHATIN KEKERASAN : Anggota MPR RI Agustina Wilujeng dan pimpinan sejumlah ormas di Jateng usai menerima buku disela Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Wanita Semarang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pendidikan budi pekerti perlu lebih diterapkan di sekolah guna mencegah aksi kekerasan yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Peran keluarga juga dianggap penting untuk membentuk karakter anak.

Anggota MPR RI Agustina Wilujeng mendesak pemerintah melakukan upaya riil untuk mencegah tindak kekerasan terus berlanjut. Aksi kekerasan terbaru adalah penyerangan di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog Jogjakarta, Minggu (11/2). Sebelumnya juga ada kasus pemukulan guru hingga meninggal oleh siswa di Sampang, Madura. “Hal ini menjadi keprihatinan kita bersama, namun prihatin saja tidak menyelesaikan masalah,” ujarnya usai Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Wanita Semarang, Minggu (11/2) malam.

Menurutnya sekolah perlu menggiatkan pendidikan budi pekerti guna mencegah hal itu terulang. Selama ini, pendidikan budi pekerti hanya sedikit diberikan, itu pun sebatas teori. “Kalau hanya teori di awang-awang ya susah. Harus learning by doing. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga harus diterapkan,” ujar Bendahara DPD PDI Perjuangan Jateng itu.

Dikatakannya, empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi senjata ampuh untuk menghindarkan sikap intoleransi. Namun diakuinya, menanamkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan itu butuh proses. Tak bisa langsung dipetik hasilnya saat itu juga.

Metode untuk mengajarkan empat pilar kebangsaan juga perlu disesuaikan dengan era sekarang. Jika zaman dulu cukup dengan lisan, maka saat ini bisa melalui vlog atau  media sosial. Tujuannya lebih mudah diterima generasi muda.

Sosialisasi dilakukan bersama pengurus dan pimpinan sejumlah Ormas di Jateng. Diantaranya Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), dan Pemuda Demokrat.

Ketua Dewan Pembina Alumni GSNI, Soetjipto meminta sosialisasi empat pilar kebangsaan terus digencarkan. Utamanya pada generasi muda. “Jangan sampai, nilai-nilai yang menjadi perekat bangsa ini hilang,” katanya. (ric)