Seni Tuturan Berbahasa Jawa Zaman Now

246
Oleh: Priyantono MPd
Oleh: Priyantono MPd

RADARSEMARANG.COM – Dilihat dari sisi penuturnya, Bahasa Jawa memiliki fungsi multitalenta dan multiguna. Sebagai bahasa yang multitalenta dan multiguna, bahasa Jawa digunakan sebagian besar masyarakat Jawa dalam berkomunikasi, baik tuturan berbahasa Jawa ngoko maupun berbahasa Jawa krama. Sebagai bahasa yang  sarat dengan unggah-ungguh dan berkarakter yang “njawani” maka menjadi  barometer karakter bagi masyarakat Jawa. Oleh karena itu, mayoritas keluarga sangat mendambakan para anggota keluarga masih eksis bertutur dengan bahasa Jawa.

Ukuran sudah ditanamkan atau belum sebuah karakter  dan kesantunan di dalam keluarga sangat ditentukan tingkat keberhasilan anggota keluarga dalam bertutur dengan  bahasa Jawadan berkarakter “njawani.” Masyarakat penutur  bahasa Jawa mengenal adanya tingkat tutur  bahasa Jawa yang lebihluas, yakni  tingkat tutur ngoko lugu, ngoko alus,krama lugu, dan krama alus. Tingkat tutur bahasa tersebut sangat kental di masyarakat pemakai bahasa Jawa baik “kawula muda” maupun ‘kawula tua.’Lazimnya, kawula muda jika bertutur dengan kawula tua menggunakan bahasa Jawa krama atau krama alus. Ada sinyalemen jika kawula muda tidak dapat menggunakan bahasa krama, kawula muda dianggap kurang sopan dan kurang “miyayeni.”

Para kawula muda yang kurang ‘miyayeni’ tersebut kadang menjadi bahan perolokan sesama kawula muda jika bergaul, bahkan disinyalir kurang mempunyai tata krama. Tidak hanya kawula muda, kawula tua dalam tata pergaulan di masyarakat sering diberi noktah, dari kalangan piyayi atau dari kalangan biasa. Sinyalemen tersebut dapat dilihat dari cara bertutur kata dan bertingkah laku. Jika cara bertutur kata dan bertingkah laku halus dan miyayeni, dapat dikategorikan dari kalangan piyayi, sebaliknya jika cara bertutur kata dan bertingkah laku kasar dan kurang “miyayeni” maka dapat dikategorikan dari kalangan nonpiyayi.

Hal ini sering terjadi dalam pergaulan di dalam masyarakat yang sudah turun temurun. Keadaan yang demikian tentu saja menggambarkan keadaan seni tuturan masyarakat Jawa yang identik dengan “budaya ketimuran” yang penuh dengan adab susila dan penuh dengan etika. Bagaimana seni tuturan tersebut zaman now?