Metode Expo untuk Generasi Kepo

115
Oleh: Susi Siswanti SPd MPd
Oleh: Susi Siswanti SPd MPd

RADARSEMARANG.COM – BERPIJAK pada pengembangan Kurikulum 2013 di mana dalam pelaksanaan pembelajaran harus terintegrasi kompetensi abad 21 yang terdiri dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), kemampuan belajar dan berinovasi dalam 4C, dan literasi digital. Guru sebagai insan profesional harus mampu mengikuti dan melaksanakan perkembangan kurikulum tersebut. Guru tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu pemanggilan pelatihan atau adanya buku guru yang terbit untuk digunakan sebagai rencana pelaksanaan pembelajaran karena waktu semakin berjalan sedangkan titipan amanah besar sudah di depan mata. Untuk itu, dengan penuh daya dan upaya harus mampu belajar minimal dengan membaca pedoman atau sumber referensi lainnya untuk mengikuti perkembangan kurikulum yang terjadi.

Meskipun mengajar sudah biasa menjadi tugas utama guru, namun tidak boleh dianggap hanya sebatas yang penting mengajar ketika masuk kelas. Jika hal itu masih diungkapkan maka akan menjadi ancaman serius bagi status guru, siswa tak lagi menganggap guru bak pelita – penerang dalam gulita karena siswa sudah punya mesin pencari yang mau menjawab semua pertanyaannya. Untuk itu keberadaan guru sebagai pemegang skenario dalam pembelajaran yang dalam istilah jawa-nya “dalang ora kurang lakon” harus mampu kreatif dan inovatif untuk membuat siswa masih tetap membutuhkan keberadaan sosok guru.

Kompetensi abad 21 sebagai salah satu penyelamat generasi muda yang sudah mulai kehilangan jati dirinya. Namun juga tidak mengekang generasi muda untuk tidak melihat majunya dunia melalui teknologi informasi. Ketika mereka mulai kepo (ingin tahu) tentang sesuatu hal yang ada di media sosial, maka melalui gerakan literasi (literasi digital) kita mampu mengarahkan rasa keingintahuannya pada apersepsi yang kita munculkan saat awal pelajaran. Jika mereka penasaran dengan kebenaran berita hoax, kita mampu melatihnya berpikir dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) melalui penyelesaian masalah yang mereka diskusikan di kelas. Apabila mereka sedang galau atau baper, maka kita menuntunnya dengan kegiatan religius, berkomunikasi, saling peduli terhadap sesama dan masih banyak lagi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diselaraskan dengan kompetensi abad 21 yang terintegrasi dalam pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran yang terpusat pada siswa tak semudah dalam menyusun rancangannya. Kemampuan siswa yang majemuk membuat guru harus terampil menerapkan kompetensi pedagogisnya dalam menguasai perkembangan peserta didiknya. Kompetensi dasar yang akan dituju dalam kegiatan pembelajaran harus mampu diserap oleh semua siswa tidak hanya memungkinkan untuk siswa yang pandai. Disinilah peran guru yang sangat vital untuk meramu skenario pembelajaran agar semua siswa terlibat aktif, menumbuhkan rasa keingintahuan mereka, dan tentunya menunjukkan manfaat ilmu yang akan dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here