Pembangunan Harus Libatkan Pemuda

329
MEMBANGUN JATENG : Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng, Zaenudin, Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin saat mengisi acara diskusi dalam diskusi di Markas Perjuangan Merah Putih, Jalan Pamularsih 95, Semarang. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBANGUN JATENG : Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng, Zaenudin, Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin saat mengisi acara diskusi dalam diskusi di Markas Perjuangan Merah Putih, Jalan Pamularsih 95, Semarang. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Seluruh elemen pemuda harus mendapat tempat dan diberdayakan dalam pembangunan di Jateng. Hal tersebut sebagai salah satu cara meningkatkan daya saing pemuda Jateng di kancah nasional. Untuk itulah, pasangan Sudirman-Ida Fauziyah diminta bisa benar-benar mengoptimalkan keberadaan pemuda di Jateng.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng, Zaenudin,menambahkan untuk memperoleh tempat yang layak dan bisa diberdayakan, pemuda harus membangun kompetensinya sekaligus mampu menyesuaikan diri. “Jangan seperti dinosaurus. Memiliki kemampuan dan kekuatan yang luar biasa. Namun hanya dikenang, karena tidak bisa beradaptasi dengan iklim dan lingkungan. Maka kita harus menyesuaikan diri,” katanya dalam diskusi di Markas Perjuangan Merah Putih, Jalan Pamularsih 95, Semarang.

Ia menambahkan, Jateng saat ini menjadi barometer pergerakan nasional, dalam hal apapun, dari kepemudaan sampai pemerintahannya. Namun, menurut dia, konektivitas organisasi kepemudaan di Jateng tidak pernah diperhatikan pemerintahan saat ini. “Kalau ingin pemuda Jawa Tengah mengejar ketertinggalan ini, solusinya harus ganti pemimpin, ganti sing anyar,” tegasnya.

Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin mengatakan, tidak ada jalan lain untuk mendorong kemajuan di Jateng, kecuali dengan memberdayakan dan pemberian ruang pada pemuda. Jateng harus belajar dari Jakarta dan Bandung. “Perkembangan kelas menengah di dua daerah itu saat ini dikuasai generasi milenial,” katanya.

Ia menambahkan, dalam percaturan politik, keberadaan pemuda memang menarik sekaligus tidak menarik. Penting, namun di sisi lain tidak penting. “Jika jadi caleg, saya lebih memilih mendekati ibu-ibu muslimat daripada mahasiswa. Tapi saya tidak bisa meninggalkan mahasiswa atau pemuda begitu saja,” tambahnya.

Saat ini perubahan revolusioner terjadi karena teknologi. Pakar revolusi sampai pun Marx, kalah dengan pergerakan ini. “Nah, siapa pemegang kendali dalam ranah teknologi? Pemuda, generasi milenial,” tambahnya.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap pemuda juga diungkapkan Abdul Walid, pegiat Santren Delik, Semarang. Dia pernah menjabat Ketua UMKM Jateng. “Orang Jawa Barat, Jawa Timur, ketika keluar bangga menyebut daerahnya. Orang Jawa Tengah bawa nama Jawa Tengah, percaya diri atau tidak? Sangat sedikit,” tambahnya. (fth/ric)