Budaya Tetap Ada, Jika Kaum Muda Peduli dan Mau Merawatnya

Mahasiswa Unwahas, A Eko Yulianto, Lestarikan Seni Barong Blora

749
CINTAI BUDAYA SENDIRI : Mahasiswa Unwahas, A Eko Yulianto, dengan Barongan yang biasa dia pentaskan di berbagai acara. (MUHAMMAD KAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CINTAI BUDAYA SENDIRI : Mahasiswa Unwahas, A Eko Yulianto, dengan Barongan yang biasa dia pentaskan di berbagai acara. (MUHAMMAD KAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Seni budaya peninggalan nenek moyang, Barongan Blora selama ini kerap diidentikkan dengan kaum tua. Untuk mematahkan kesan tersebut, A Eko Yulianto dan Mas Endik berusaha melestarikannya dengan menggaet Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Blora Semarang (IMPBS). Seperti apa?

MUHAMMAD KAFI

SEJARAH panjang Seni Barong Blora tidak lepas dari tradisi Reog Ponorogo. Namun tetap memiliki perbedaan di antara keduanya. Kepala Barong Ponorogo, terdapat merak yang digambarkan sebagai sebuah keindahan. Sedangkan bentuk kepala Barong Blora hanya berupa kepala singa.

Ahmad Eko Yulianto, mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan Agribisnis Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang mengungkapkan bahwa filosofi keduanya berbeda. Dari segi fisik, Barong Ponorogo punya merak, mulutnya tak bisa dibuka, dan menggambarkan singa. Sedangkan Barong Blora rambutnya tidak ada bulu meraknya, mulut bisa dibuka dan menggambarkan macan.

“Barong Blora ini kalau sudah buka mulut dan mengunci sasarannya, tidak akan bisa lepas. Kecuali ada yang memberinya bunga, kelapa, dan kemenyan. Ya, salah satu dari unsur itu, harus dikasih,” ujar Eko Yulianto kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang.

Karena itulah, setiap akan ada pementasan, ia selalu menyiapkan makanan untuk Barongan Blora. Itu buat jaga-jaga, jika di tempat pementasan tidak disediakan bunga, kelapa, dan kemenyan.

“Setiap mau pentas, saya dan teman-teman menyiapkan bunga, kelapa, dan kemenyan. Itu untuk berjaga-jaga kalau di daerah tersebut tidak ada,” jelas warga Todanan, Blora ini.