Replika Alat Liputan Wartawan Dijamas

839
JAMASAN : Berbagai replika alat pendukung peliputan didoakan sebelum dicuci menggunakan air bunga sebagai simbol pembersihan diri. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDUPUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
JAMASAN : Berbagai replika alat pendukung peliputan didoakan sebelum dicuci menggunakan air bunga sebagai simbol pembersihan diri. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDUPUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Warga Kampung Potrosaran, Potrobangsan bersama wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang, seniman, mahasiswa, hingga santri Ponpes Selamat menggelar jamasan alat tugas wartawan, Kamis (8/2). Tentu bukan peralatan elektronik asli yang dicuci air, tapi cukup replika alat pendukung peliputan seperti kamera dan mikropon.

Acara dimulai dari halaman rumah pemilik Padepokan Tidar ES Wibowo. Rombongan kemudian menyusuri Kali Kota hingga Menara Bengung. Di lokasi ini, prosesi jamasan dilakukan.

Budiyono, seorang budayawan yang juga dosen Untidar menyebutkan, di era digital seperti saat ini, hampir semua orang bisa menjadi wartawan. Sehingga, kerap menyebar berita-berita yang tidak bertanggungjawab di media sosial. Fenomena itu seakan menjadi tantangan bagi pers, untuk tetap bekerja penuh profesonialisme yang taat Kode Etik Jurnalistik (KEJ). “Pers juga kita harapkan berbudaya, karena pers menjadi peradaban dunia. Pers harus suarakan yang realita,” katanya.

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito yang hadir dalam acara ini menyebutkan, peran pers sangat berarti dalam pembangunan. Program, kegiatan dan kebijakannya tersampaikan secara luas hingga diketahui publik berkat pers. “Kalau pemerintah ada kurang, berikan kritik tidak masalah. Alhamdulillah, kalau ada pemecahan masalah, sehingga tidak sekedar menyampaikan,” ujar Sigit. (put/ton)