Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono, ST MT menjadi nara sumber dalam dialog interaktif di studio Kompas TV Semarang. (Humas DPRD Kota Semarang)
Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono, ST MT menjadi nara sumber dalam dialog interaktif di studio Kompas TV Semarang. (Humas DPRD Kota Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Penanganan banjir dan rob masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Salah satunya adalah banjir dan rob yang melanda kawasan Semarang bagian timur mulai dari Gayamsari hingga Genuk dan sebagian Pedurungan. Untuk itu perlu ada penanganan yang cepat untuk mengatasi banjir.

“Penanganan banjir dan rob sudah masuk menjadi salah satu prioritas dari program walikota-wakil walikota, upaya ini harus dipercepat, salah satu kuncinya adalah koordinasi dengan Pemprov Jateng dan Kementrian PUPR,” ujar wakil ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono, ST. MT.

Selain Agung Budi Margono, ST MT, pakar hidrologi FT Undip Dr Nelwan dan Kabid SDA dan Drainase, Kumbino menjadi nara sumber dalam dialog. (Humas DPRD Kota Semarang)
Selain Agung Budi Margono, ST MT, pakar hidrologi FT Undip Dr Nelwan dan Kabid SDA dan Drainase, Kumbino menjadi nara sumber dalam dialog. (Humas DPRD Kota Semarang)

Saat ditemui usai dialog interaktif di studio Kompas TV, Agung Budi Margono menegaskan Semarang sudah memiliki perda No 7 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Penanganan Drainase. Dalam perda tersebut sudah jelas apa yang harus dilaksanakan, sumber pembiayaan hingga estimasi biayanya.

“Tinggal kita laksanakan saja perda tersebut, makanya kita butuhkan koordinasi dengan pemprov Jaeng dan Kementrian PUPR,” ujar Agung Budi Margono. Politisi asal PKS ini menandaskan penanganan drainase yang dilakukan saat ini kurang maksimal. Dia mencontohkan penanganan Kali Tenggang yang asmih terkendala pembebasan lahan.

“Pembebasan lahan sampai sekarang belum selesai juga, ke depan kami berharap pemkot bisa lebih cepat lagi dalam mengatasi masalah banjir,” katanya. Terkait dengan kondisi Jalan Kaligawe Raya yang masih saja kebanjiran jika hujan deras, menurut Agung BM, tidak lepas dari tingginya rob.

Beberapa waktu lalu ada beberapa sungai yang dibendung untuk menanggulangi rob. Namun hal ini tidak diimbangi dengan pompa yang memadai baik dari kapasitas maupun jumlahnya, sehingga ketika ada hujan deras, air tidak bisa dibuang ke laut dengan cepat. “Ini harus segera diselesaikan, kalau perlu tambah mesin pompa,” tegasnya.

Terkait dengan wacana peninggian Jalan Kaligawe Raya, Agung Budi Margono menyatakan hal itu perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam. Pasalnya, peninggian jalan memiliki sejumlah konsekuensi mulai dari anggaran biaya, dampak yang ditimbulkan hinga persoalan waktu pekerjaan.