KONVENSI MEDIA : Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Dahlan Iskan, perwakilan AC Nielsen Hellen Catarina, Ketua KPPU Sarkawi Rauf dan pengusaha media Anindya Bakrie dalam sesi acara konvensi media di sela HPN 2018 di Padang, Sumbar. (Wahib Pribadi/Radar Semarang)
KONVENSI MEDIA : Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Dahlan Iskan, perwakilan AC Nielsen Hellen Catarina, Ketua KPPU Sarkawi Rauf dan pengusaha media Anindya Bakrie dalam sesi acara konvensi media di sela HPN 2018 di Padang, Sumbar. (Wahib Pribadi/Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, PADANG – Perubahan platform media dari konvensional ke digitalisasi dinilai terlalu cepat. Akibatnya, saat ini sulit untuk memprediksi atau menperkirakan masa depan nasib media massa. Demikian disampaikan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Dahlan Iskan saat menjadi narasumber konvensi media di Hotel Grand Inn, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (8/2).

Menurutnya, semua orang tidak tahu masa depan media. “Sekarang ini semua orang tidak tahu, baik yang pintar dan tidak pintar sama-sama tidak tahu (masa depan media),”kata Dahlan.

Dia menambahkan, jika sebelumnya masa depan media dapat diproyeksikan dengan program-program tertentu, saat ini tidak bisa lagi seperti itu. “Perubahan terlalu cepat. Sekarang tidak bisa terlalu banyak mendengarkan nasehat, perencanaan jangka pendek maupun panjang karena semua sulit diprediksi. Perubahan terlalu cepat,” tandasnya.

Saat ini, kata Dahlan, banyak wartawan juga membuat media online sendiri sehingga masing masing punya media sekaligus pemilik dan menjadi wartawan. “Ini karena gaji di media tempatnya bekerja sedikit sehingga membuat online sendiri. Kondisi seperti ini sudah kita bahas di SPS,”ujarnya.

Menurutnya, persaingan media ini akan sangat bebas. “Ini terjadi lantaran sekarang kondisi media sedang memasuki era kekacauan,” imbuhnya.

Pengusaha media Anindya Bakrie juga menyampaikan, bahwa bisnis media pascarevolusi media digital membuat kondisi media mengalami deflasi atau penurunan tajam dari eksistensinya. “Ini akan terus berlanjut. Akibat faktor globalisasi dan perkembangan teknologi,” tuturnya. (hib/lis)