Jejak Kantor 6 Koran Terancam Lenyap

Melihat Bekas Kantor Surat Kabar De Locomotief

706
BELUM CAGAR BUDAYA : Bekas kantor surat kabar De Locomotief di Kota Lama Semarang yang sudah rusak. (NURCHAMIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BELUM CAGAR BUDAYA : Bekas kantor surat kabar De Locomotief di Kota Lama Semarang yang sudah rusak. (NURCHAMIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Saksi bisu perkembangan pers di Kota Semarang tengah sekarat. Bekas kantor surat kabar pertama di Semarang telah runtuh dan menunggu lenyap. Belum ada upaya nyata untuk menyelamatkan bekas kantor De Locomotief.

PAGAR seng terpasang menutupi bagian muka sebagian bangunan yang berada di Jalan Kepodang kawasan Kota Lama Semarang. Dari balik seng tersebut, terlihat reruntuhan bangunan yang tak utuh lagi. Tidak beratap. Temboknya rapuh di sana-sini. Berbagai tanaman liar tampak hidup subur, termasuk di sela-sela pecahan tembok. Salah satu sisi tembok bangunan yang berada di Jalan Jalak saat ini menjadi spot foto yang banyak diburu pengunjung Kota Lama karena keunikan akar pohon yang menembus tembok.

KORAN HARIAN: Enam surat kabar yang pernah berkantor di Jalan Kepodang 20-22 Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KORAN HARIAN: Enam surat kabar yang pernah berkantor di Jalan Kepodang 20-22 Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bangunan ini menjadi salah satu saksi bisu perkembangan pers di Kota Semarang. Setidaknya ada 6 harian yang pernah berkantor di gedung yang beralamat di Jalan Kepodang  No 20-22 ini, De Locomotief salah satunya. Ruas jalan ini dulunya bernama Hoogendorpstraat, setelah Indonesia merdeka diganti menjadi Jalan Purwodinatan Barat II dan diganti lagi menjadi Jalan Kepodang hingga kini.

Sejarah perkembangan pers Semarang dimulai pada pertengahan abad ke 19. Liem Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang : Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kong Koan menuliskan, pada 1825, orang-orang Belanda menerbitkan surat kabar pertama di Semarang bernama Semarangsch Advertentieblad.

Tapi dosen sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dewi Yuliati, dalam buku Melacak Pers Jawa Tengah mencatat, di Semarang, pertumbuhan industri pers milik orang Eropa dirintis oleh perusahaan Olifant & Co pada 1846. Perusahaan ini memperoleh izin dari Gubernur Jenderal JJ Rochussen untuk menerbitkan Semarangsche Advertentieblad dan Semarangsche Courant. Kemudian pada 1852, PJ De Groot menerbitkan Semarangsche Nieuws-en Advertentieblad yang pada 1862 berganti nama menjadi De Locomotief. Penggantian nama koran ini dikaitkan dengan berdirinya Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1862. NIS adalah perusahaan kereta api pertama di Indonesia yang membuka jalur Semarang–Tanggung (Grobogan).