Warga Rejosari Blokir Proyek Tol 

239
UNJUKRASA : Ratusan warga Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel melakukan aksi demonstrasi di balai desa setempat, Selasa (6/2) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
UNJUKRASA : Ratusan warga Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel melakukan aksi demonstrasi di balai desa setempat, Selasa (6/2) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Ratusan warga Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel memblokir pembangunan jalan tol di desa setempat. Aksi tersebut, dipicu adanya rencana penutupan akses jalan Kendal-Magangan untuk proyek tol Semarang-Batang. Pasalnya, jalan tersebut merupakan jalan utama warga berpuluh-puluh tahun lamanya. Penutupan jalan terseebut, menyulitkan dan mematikan perekonomian warga.

Aksi pemblokiran proyek tol tersebut, dilanjutkan dengan unjuk rasa. Aksi ini didominasi kaum ibu-ibu. Dengan menggunakan spanduk dan poster bertuliskan penolakan pengalihan jalan desa. Mereka menuntut agar penutupan jalan desa dihentikan.

Perlu diketahui, penutupan jalan Desa Rejosari karena pelaksana proyek telah menyediakan jalan pengganti berupa overpass yang dibangun memutar arah dengan menempuh jarak lebih kurang dua kilo meter. Jalan pengganti jalan yang dibangun sangat tinggi, menyulitkan warga, sehingga dinilai solusi yang tak tepat. “Terutama petani, tukang becak dan kusir kuda serta pesepeda lainnya,” kata Budi Harjono, 37.

Selain itu, pembangunan overpass menimbulkan dampak banjir di Desa Rejosari semakin parah. Yakni banjir dari luapan Sungai Blorong yang setiap musim penghujan. Apalagi dengan dibangunnya tol, praktis tidak ada aliran air. “Karena tol dibangun sudah tinggi menggunakan talud, jadi aliran air akan tertahan,” tandasnya.

Jadi warga yang rumahnya berada di selatan tol, akan terdampak banjir. “Selama ini saja banjir bisa setengah meter masuk rumah warga. Apabila jalan utama, tidak ada drainase, luapan Sungai Blorong akan membanjiri rumah warga,” kata Basriban 40, warga lainnya.
Warga menuntut agar pembangunan jalan overpass dihentikan. Sebaliknya warga menuntut dibangun underpass. Yakni jalan tol dibangun layang, sedangkan jalan desa dibangun di bawah jalan tol atau trowongan. “Jadi jalan ini masih utuh. Jalan tolnya yang dinaikkan,” katanya.

Erwin dari LSM LKPP mengatakan jika jalan desa dibangun underpass, akan mengurangi dampak banjir. Sebab ketika banjir terjadi, masih ada celah aliran banjir melalui jalan terowongan. “Intinya kami meminta jalan tersebut jangan ditutup,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here