RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Bahasa ibu atau bahasa daerah dari tahun ke tahun mulai berkurang penggunanya. Padahal, peran bahasa ibu sangat penting. Selain sebagai identitas kedaerahan, juga sebagai wujud keberagaman budaya dalam kebersamaan.

Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Upgris Asropah menuturkan, sebagai identitas bangsa, bahasa ibu harus terus dilestarikan melalui berbagai cara. ”Salah satunya seperti yang sudah dilakukan Ahmad Tohari yakni membuat kamus bahasa Banyumasan (ngapak),” jelas Asropah sembari menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 742 bahasa daerah yang keseluruhannya memiliki pengucap di masing-masing daerah.

Menurutnya, bahasa ibu mulai jarang digunakan karena faktor keluarga, pendidikan, dan juga pergaulan. Dalam keluarga, banyak orang tua yang merasa bangga jika anaknya mahir bahasa asing sajak kecil. ”Padahal, dalam sistem pendidikan kita sudah diatur kapan sebaiknya seorang anak mulai mempelajari bahasa kedua (Indonesia) dan ketiga (misal Inggris),” jelasnya.

Faktor kedua, lanjut Asropah adalah pendidikan. Banyak sistem pengajaran di kelas yang sudah tidak menggunakan pengantar bahasa ibu sesuai masing-masing daerah. Rata-rata bahasa pengajaran menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya, dengan harapan agar mudah menyampaikan materi.

”Padahal, sebenarnya bahasa ibu penting digunakan, terutama pendidikan dasar. Semisal penggunaan bahasa Jawa alus untuk anak-anak SD di Jawa,” kata dia.

Faktor ketiga adalah pergaulan. Anak cenderung berbahasa mengikuti apa yang dipakai oleh teman-temannya. Anak yang lahir di desa dan dibesarkan di kota besar cenderung akan mengikuti bahasa pergaulan di kota ketimbang bahasa asli ibunya.
”Untuk itu, Universitas PGRI Semarang berkomitmen untu menjaga penggunaan bahasa ibu sebagai kekayaan budaya dan bangsa. Salah satunya lewat peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2018 tanggal 21 Februari 2018 nanti,” jelasnya. (sga/zal)