33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Upgris Komitmen Jaga Penggunaan Bahasa Ibu

Must Read

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Bahasa ibu atau bahasa daerah dari tahun ke tahun mulai berkurang penggunanya. Padahal, peran bahasa ibu sangat penting. Selain sebagai identitas kedaerahan, juga sebagai wujud keberagaman budaya dalam kebersamaan.

Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Upgris Asropah menuturkan, sebagai identitas bangsa, bahasa ibu harus terus dilestarikan melalui berbagai cara. ”Salah satunya seperti yang sudah dilakukan Ahmad Tohari yakni membuat kamus bahasa Banyumasan (ngapak),” jelas Asropah sembari menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 742 bahasa daerah yang keseluruhannya memiliki pengucap di masing-masing daerah.

Menurutnya, bahasa ibu mulai jarang digunakan karena faktor keluarga, pendidikan, dan juga pergaulan. Dalam keluarga, banyak orang tua yang merasa bangga jika anaknya mahir bahasa asing sajak kecil. ”Padahal, dalam sistem pendidikan kita sudah diatur kapan sebaiknya seorang anak mulai mempelajari bahasa kedua (Indonesia) dan ketiga (misal Inggris),” jelasnya.

Faktor kedua, lanjut Asropah adalah pendidikan. Banyak sistem pengajaran di kelas yang sudah tidak menggunakan pengantar bahasa ibu sesuai masing-masing daerah. Rata-rata bahasa pengajaran menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya, dengan harapan agar mudah menyampaikan materi.

”Padahal, sebenarnya bahasa ibu penting digunakan, terutama pendidikan dasar. Semisal penggunaan bahasa Jawa alus untuk anak-anak SD di Jawa,” kata dia.

Faktor ketiga adalah pergaulan. Anak cenderung berbahasa mengikuti apa yang dipakai oleh teman-temannya. Anak yang lahir di desa dan dibesarkan di kota besar cenderung akan mengikuti bahasa pergaulan di kota ketimbang bahasa asli ibunya.
”Untuk itu, Universitas PGRI Semarang berkomitmen untu menjaga penggunaan bahasa ibu sebagai kekayaan budaya dan bangsa. Salah satunya lewat peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2018 tanggal 21 Februari 2018 nanti,” jelasnya. (sga/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This