Pengamanan Bahan Makanan untuk Mengendalikan Inflasi

309
Oleh: B. Junianto Wibowo
Oleh: B. Junianto Wibowo

RADARSEMARANG.COM РPada tahun 2017, angka inflasi di Indonesia mencapai 3,61%. Angka inflasi tersebut sudah masuk kategori aman, karena masih dibawah target inflasi APBN penyesuaian sebesar 4,30% (BPS, 2017). Namun angka inflasi itu belum sesuai harapan, karena angka inflasi sebenarnya yang dikehendaki pemerintah adalah angka inflasi yang seminimal mungkin.  Pasalnya, tingkat inflasi di Indonesia masih terbilang lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi di negara-negara ASEAN. Data tahun 2015 menunjukkan bahwa inflasi di Indonesia sebesar 3,36%. Sedangkan inflasi di Malaysia mencapai 2,70% dan Filipina 1,50%. Thailand bahkan -0,85% dan Singapura -0,60% (Idris, detikfinance 25 April 2016).

Sebagaimana kita ketahui bahwa inflasi di Indonesia sampai saat ini didasarkan pada 7 kelompok pengeluaran, mulai dari pengeluaran untuk kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman dan tembakau, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan dan olah raga serta transportasi dan komunikasi. Diantara tujuh kelompok pengeluaran penyumbang inflasi tersebut.  Maka yang kerap kali memberi andil terbesar terhadap inflasi di Indonesia berasal dari kelompok bahan makanan. Pada tahun 2017, pengeluaran kelompok bahan makanan memberi andil sebesar 0,41% terhadap inflasi.

Pengeluaran sebesar itu terjadi akibat dari gejolak harga bahan makanan. Yang menurut hemat penulis tidak terlepas dari faktor distribusi dan spekulasi. Kedua faktor ini sering memicu gejolak harga komoditas bahan makanan di pasaran. Meskipun demikian, faktor tersebut merupakan faktor yang masih dapat dikendalikan dibandingkan faktor harga dari negara lain, perubahan kurs valuta asing, maupun kondisi iklim.

Permasalahannya adalah bagaimana supaya bahan makanan tersebut dapat lancar sampai tujuan dengan harga yang terjangkau tanpa dipermainkan oleh spekulan. Sehingga tidak memicu kenaikan harga dan mendongkrak angka inflasi.

Ada beberapa hal yang perlu disampaikan terkait dengan hal itu. Pertama, memperpendek saluran distribusi. Fakta dilapangan selama ini menunjukkan bahwa saluran distribusi bahan makanan terutama hasil pertanian cukup panjang. Yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari penebas, pengepul, pedagang induk, dan pengecer. Panjangnya mata rantai saluran distribusi tersebut dapat menyebabkan waktu yang diperlukan dari petani sebagai produsen bahan makanan hingga ke konsumen cukup lama. Akibat dari penyimpanan dan mungkin penyortiran yang harus dilakukan atas produk bahan makanan. Dengan konsekuensi terjadinya kenaikan harga. Yang pernah dirasakan adalah melambungnya harga komoditas cabai merah dan bawang merah yang cukup signifikan. Pada tingkat petani harga cabai berkisar Rp 15.000,- namun sampai ke konsumen menembus diatas Rp 70.000,- per kilogramnya. Sementara, harga bawang merah pada tingkat petani berkisar Rp 7000,- sampai Rp 12.000,- per kilogramnya, kemudian pada tingkat konsumen mencapai diatas Rp 30.000,- per kilogramnya.