RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jumlah kecelakaan kerja di Jateng selama 2017 menurun drastis disbanding tahun sebelumnya. Yaitu sebanyak 1.400 kejadian. Padahal, 2015 lalu mencapai sekitar 3 ribu kejadian. Sementara 2016, naik drastis menjadi 3.500 kejadian.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Wika Bintang menjelaskan, penurunan angka kecelakaan kerja itu tidak lepas dari program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang sejak awal 2017 terus digeber Pemprov. Karena itu, dia berharap, angka kecelakaan kerja tahun ini bisa kembali ditekan dengan kesadaran K3.

“K3 harus dijaga terus. Semoga perusahaan semakin care dan aware terhadap perlindungan tenaga kerja pada lingkungan dan alat produksi. Itu untuk menjamin keamanan dan keselamatan semua pihak,” ujarnya, Selasa (6/2).

Ditegaskan, K3 bisa diawali dengan memasukkan pemakaian alat pelindung diri (APD) dalam standar operasional prosedur (SOP). Artinya, setiap karyawan atau orang lain yang masuk ke dalam lingkungan kerja, wajib menggunakan APD untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

“Perusahaan juga harus mengecek APD secara berkala. Termasuk alat-alat pendukung lain yang berada di dalam lingkungan kerja. Seperti APAR (alat pemadam api ringan), dan lain sebagainya,” tegasnya.

K3 ini sudah tidak bisa ditawar lagi. Sebab, jika ketahuan ada perusahaan yang tidak membudayakan K3, Disnakertrans Jateng akan tegas memberi sanksi. Meski begitu, sepanjang 2017 lalu, tidak ada perusahaan yang dijerat hukuman gara-gara tidak punya K3. Karena itu, jika ada karyawan yang merasa perusahaan tempat bekerja tidak menerapkan K3, bisa dilaporkan ke Disnakertrans atau kanal aduan LaporGub. “Sementara ini kami baru melakukan pembinaan dan sosialisasi saja untuk menyadarkan perusahaan. Terutama perusahaan besar yang menggunakan bahan baku berbahaya,” terangnya.