BERI DUKUNGAN : Ketua DPC Demokrat Kota Semarang Wahyu Winarto (tengah) bersama para pengurus, memberi dukungan penuh sikap SBY yang melaporkan Firman Wijaya ke Bareskrim, kemarin. (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)
BERI DUKUNGAN : Ketua DPC Demokrat Kota Semarang Wahyu Winarto (tengah) bersama para pengurus, memberi dukungan penuh sikap SBY yang melaporkan Firman Wijaya ke Bareskrim, kemarin. (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COMSEMARANG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Semarang mendukung penuh pelaporan Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Bareskrim Polri terkait pencemaran nama baik yang dilakukan Firman Wijaya, pengacara Setya Novanto (Setnov).

“Ini reaksi kami. Ketika ketua umum kami difitnah.  Sebagai kader Partai Demokrat kami mendukung langkah Pak SBY sampai mana pun,” tegas Ketua DPC Demokrat Kota Semarang, Wahyu Winarto, Selasa (6/2).

Menurut, Liluk, sapaan akrab Wahyu Winarto, dukungan tidak hanya dari tingkat DPC, tapi juga DPD di seluruh Indonesia. Pihaknya siap memberi dukungan moral maupun massa untuk mengecam pernyataan Firman Wijaya, yang menyentil nama SBY dalam kasus mega korupsi KTP Elektronik yang dilakukan Setnov.

“Siang inipun (kemarin), SBY bersama 1.000 kader dan 100 pengacara telah melaporkan Firman Wijaya ke Bareskrim. Kami para kader siap bergerak menunggu perintah DPP,” terangnya.

Sekretaris DPC Demokrat Danur Rispriyanto menambahkan, kasus E-KTP sama sekali tidak terkait dengan Presiden RI ke 6 itu. Sebagai kader pihaknya tidak mau ada pihak yang melecehkan nama Ketua Umum-nya. DPP sendiri sudah memerintahkan kepada jajaran DPD dan DPC untuk meluruskan persoalan ini baik secara internal kader maupun persepsi masyarakat.

“Yang perlu diluruskan pencatutan nama dalam persidangan. Karena saat itu eranya SBY sebagai presiden. Tugas kepala negara itu masuk dalam rancangan Undang Undang. Sehingga tidak bisa menghentikan sesuatu yang sudah disusun dalam Undang-Undang,” imbuh Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, itu.

Pencemaran nama baik itu terkait dengan sidang e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto pada Kamis, 25 Januari 2018 saat mantan anggota DPR dari Partai Demokrat periode 2009-2014 Mirwan Amir memberi kesaksian.

Ketika memberi kesaksian, Mirwan menyebut nama SBY setelah dicecar beberapa pertanyaan oleh Firman. Pertanyaan dan jawaban dari keduanya dianggap sebagai fitnah karena tidak berlandaskan bukti. (zal)