Penyusunan DED Harus Libatkan Seniman

289
JADI POLEMIK: Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang tahun ini akan direvitalisasi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JADI POLEMIK: Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang tahun ini akan direvitalisasi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG –Revitalisasi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dinilai akan sia-sia apabila tidak dibarengi dengan pengelolaan baik dan tepat. Untuk menuju pengelolaan yang baik dan tepat, maka diperlukan konsep secara matang.  Sejauh ini, visi misi Pemkot Semarang dan para seniman belum sepenuhnya sepaham. Di lapangan, perencanaan pembangunan dan pengelolaan yang ditawarkan pemerintah kerap berbenturan dengan pemikiran seniman.

Anggota DPRD Kota Semarang, Wahid Nurmiyanto, meminta Pemkot Semarang melibatkan para seniman sejak awal perencanaan pembangunan. Hal itu untuk menemukan formulasi konsep pengelolaan TBRS secara tepat dan disepakati bersama.  “TBRS dibangun agar menghadirkan suasana yang lebih segar. Termasuk penyegaran seluruh potensi kreativitas seniman di Semarang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (5/2).

Hanya saja, pembangunan TBRS ini harus disiapkan pengelolaan secara profesional. “Nah, konsepnya mau seperti apa? Apakah mau dibuat murni sebagai pusat kesenian rakyat, atau memang mau dikelola dengan tujuan komersial? Saya menjadi bagian warga Kota Semarang, berharap ada kebersamaan antara Pemkot Semarang dengan teman-teman seniman di Kota Semarang. Karena nanti yang akan menggunakan adalah teman-teman seniman Semarang,” ujarnya.

Karena itu, harus ada komunikasi antara Pemkot Semarang dengan seniman untuk membuat konsep. “Dibangunnya gedung itu arahnya mau ke mana? Sehingga kalau sudah ketemu, baru teknis pelaksanaannya dikerjakan pemerintah. Karena mulai dari perencanaan pembangunan, pelaksanaan, pengelolaan kegiatan yang menggunakan APBD, kewenangannya ada di Pemkot Semarang,” katanya.

Ia menyayangkan kalau Pemkot Semarang tidak melibatkan seniman. Detail Engineering Design (DED) harus sesuai dengan kebutuhan kesenian rakyat. “Kalau konsep sudah disepakati, baru dilaksanakan kegiatan pembangunan. Sehingga konsep itu bisa utuh dengan melibatkan berbagai pihak. DED itu kan masalah teknis, termasuk tahapan pembangunannya seperti apa,” ungkapnya.

Silakan beri komentar.