Ketua DPRD Kota Semarang Temukan Mesin Pompa Tak Maksimal

314
PANTAU LAPANGAN : Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi saat mengecek mesin pompa di kawasan Kaligawe yang terendam banjir. Hasilnya, Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini menemukan sejumlah kerusakan. Sehingga membuat kinerja pompa tidak maksimal dalam menyedot genangan air.
PANTAU LAPANGAN : Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi saat mengecek mesin pompa di kawasan Kaligawe yang terendam banjir. Hasilnya, Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini menemukan sejumlah kerusakan. Sehingga membuat kinerja pompa tidak maksimal dalam menyedot genangan air.

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Banjir di wilayah Kaligawe Kota Semarang semakin mengkhawatirkan. Jalur Pantura terendam dalam beberapa hari terakhir. Hingga Senin (5/2), ketinggian air rata-rata mencapai ketinggian 30 sentimeter.

Banjir ini membuat masyarakat yang melintas di jalur tersebut berlatih sabar. Sebab, tidak jarang kendaraan warga mogok akibat terjebak banjir. Karyawan terlambat menuju ke tempat kerja, siswa sekolah terpaksa menenteng sepatu, bahkan guru sekolah terlambat mengajar karena terjebak banjir.

Supriyadi (Radar Semarang Files)
Supriyadi (Radar Semarang Files)

Salah seorang warga Genuk, Muthohar mengatakan, banjir kali ini telah berlangsung sejak seminggu lalu. “Sempat surut sih, tapi begitu turun hujan deras kembali tergenang,” katanya, kemarin.

Meski sudah menjadi pemandangan biasa, kata Muthohar, banjir seperti ini selalu merepotkan warga. Bahkan membuat stres karena tidak bisa berbuat apa-apa. “Mau bagaimana lagi, semuanya terendam air. Air menggenang dalam waktu lama, kami sebetulnya tidak tahan. Tapi ya bagaimana lagi, harus bersabar,” katanya.

Sementara itu, seorang guru SMP swasta di Kota Semarang, Sri Mujiasih, merupakan salah satu pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Ia terpaksa mendorong motornya yang mogok akibat kejebak banjir. Akibatnya, ia mengaku terlambat mengajar. “Terpaksa terlambat untuk mengajar, karena motor mogok akibat kemasukan air banjir,” katanya.

Bahkan terpaksa ia tidak mengajar karena karena baju dan sepatu miliknya basah kuyup. Dalam kondisi baju basah, ia mengaku tidak mungkin mengajar. Ia hanya satu dari sekian pengendara lain yang mengalami nasih serupa. Banyak pengendara lain yang mogok. Di beberapa titik ada yang mencapai ketinggian 40-50 cm. Sehingga ini cukup parah untuk kendaraan, apalagi jenis bebek.