Biayai Kuliah sempat Dua Kali Pinjam Koperasi

Muhammad Junaidi, Doktor Termuda di Universitas Semarang

688
GIGIH: Koordinator PKY Jateng, Feri Fernandes menyerahkan cinderamata kepada Muhammad Junaidi (kanan) saat didaulat menjadi narasumber FGD. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GIGIH: Koordinator PKY Jateng, Feri Fernandes menyerahkan cinderamata kepada Muhammad Junaidi (kanan) saat didaulat menjadi narasumber FGD. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Di usia 30 tahun, Muhammad Junaidi sudah bergelar doktor (S3). Bahkan, dia adalah doktor termuda di Universitas Semarang (USM). Seperti apa?

JOKO SUSANTO

KINI Dr Muhammad Junaidi sudah berusia 32 tahun. Di usianya masih relatif muda, ia sudah menduduki jabatan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Program Studi Magister Hukum USM. Selain itu, ia juga didaulat sebagai Dewan Pembina Institut Penegak Konstitusi (IPK) Jateng dan mengajar di beberapa perguruan tinggi di Kota Semarang.

Pria kelahiran Pati ini menyelesaikan kuliah S3 (doktor)  pada 2016 lalu di Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Ia mengaku banyak kendala dihadapi selama menimba ilmu. Maklum, dirinya bukanlah dari keluarga kaya. Bahkan, Junaidi pernah pinjam uang koperasi di Pati untuk memuluskan cita-citanya tersebut.

“Kuliah itu memerlukan biaya tinggi, apalagi kuliah S3. Pengalaman saya masuk kuliah pernah dua kali harus pinjam uang koperasi di Pati. Namun dengan keyakinan dan harapan, akhirnya saya bisa menyelesaikan studi S3 di Unissula,” kata Junaidi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (5/2).

Bapak dua anak ini tergolong gigih dalam mengejar karir pendidikannya. Begitu lulus sebagai sarjana jurusan Tata Negara Islam STAIN Syariah Ahwalu As Syahsiyah Kudus, ia langsung melanjutkan kuliah ke Magister Ilmu Hukum jurusan Kebijakan Publik di Universitas Muria Kudus (UMK). Kemudian sambil mengajar, ia melanjutkan studi program doktor di Unissula hingga lulus.

“Pengalaman saya di S2, ada PNS,  hakim dan pekerjaan lain yang berusia di atas 50 tahun melanjutkan studi. Saya melihat sekalipum mereka memiliki biaya, tapi kemampuan daya tangkap materi kuliah tentunya akan menjadi kelemahan tersendiri,” ujarnya.