Jangan Fokus Bidik Target Komersial

478
DIROMBAK TOTAL: Pintu gerbang Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIROMBAK TOTAL: Pintu gerbang Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – REVITALISASI Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) diharapkan menjadi jauh lebih baik. Benar-benar menjadi wadah yang representatif untuk pertunjukan seni dan budaya. Karena itu, para budayawan dan seniman minta sebelum melakukan revitalisasi TBRS, pemkot harus merencanakannya secara matang. TBRS harus benar-benar berubah menjadi taman budaya tanpa dicampur-adukkan dengan kepentingan lain. Sebab, selama ini, TBRS kerap dicap sebagai tempat tongkrongan dan ‘gedung manten’ saja. Hanya sekelumit kegiatan seni dan budaya digelar di sana.

Pendiri Sanggar Raden Saleh yang menerima hibah lahan saat awal pembangunan TBRS, Hari Bustaman, menilai, selama ini aset TBRS nyaris terbengkalai karena pemkot ‘setengah hati’ memberikan ruang gerak untuk berekspresi. Dibiarkan secara liar tanpa dukungan moral untuk memacu semangat berkesenian.

Selain Gedung Ngesti Pandowo, yang sebenarnya kompensasi tukar guling, beberapa fasilitas di sana tidak memadai untuk pengembangan budaya, selain banyaknya warung makan untuk tongkrongan. Dia pun berharap agar pengelola atau pengembang revitalisasi TBRS tidak terlalu fokus membidik target komersial.

“Revitalisasi TBRS perlu diapresiasi. Tapi fasilitas yang sebenarnya untuk menumbuhkembangkan seniman Semarang ini hendaknya diberi ruang yang representatif,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

 

Dengan adanya rehab ini, lanjutnya, kesempatan untuk memberi ruang kepada para seniman sangat dimungkinkan. Terutama tempat pameran untuk seni rupa yang selama ini dinilai jauh dari sebutan representatif.

Perupa Semarang perlu sarana untuk berinteraksi dengan masyarakat. Ekspresi mereka hanya bisa tersalur lewat pameran tahunan di Pazzar Seni. Itu pun tertatih-tatih penyelenggaraanya. Untuk eksebisi di area Kota Lama, misalnya, hanya seniman tertentu yang mampu tampil karena terbentur soal anggaran

Menurutnya, Pemkot Semarang sebagai penguasa proyek, perlu diketuk hatinya agar membuka lebih luas yang nantinya mampu menampung kreativitas seni di TBRS baru. Sesuai dengan obsesi keluarga Sanggar Raden Saleh saat menerima hibah dari Wali Kota Semarang saat itu, Hidiyanto, atas dorongan Gubernur Jateng Soepardjo Rustam pada zamannya, agar lahan bekas PRPP ini nantinya bisa digunakan untuk kegiatan seluruh seniman berkreasi. “Keindahan kota akan lebih sempurna ketika senimannya diberi kesempatan terlibat, tanpa lewat calo,” tegasnya.