POLISIKAN GURU : Kuasa hukum pelapor, Deo Hermansyah menunjukkan surat pelaporan terkait dugaan penganiayaan guru kepada murid di SPKT Polrestabes Semarang, Sabtu pagi (3/2) kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POLISIKAN GURU : Kuasa hukum pelapor, Deo Hermansyah menunjukkan surat pelaporan terkait dugaan penganiayaan guru kepada murid di SPKT Polrestabes Semarang, Sabtu pagi (3/2) kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Belum reda duka atas kematian guru di Madura yang dianiaya muridnya, kini muncul kasus baru antara guru dan murid di Semarang. Kali ini, orangtua salah satu siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Semarang melaporkan guru ke Polrestabes Semarang. Pelaporan ini terkait dugaan penganiayaan terhadap salah satu siswa Kelas 2 Jurusan Kelistrikan berinisial C, 16, warga Jalan Arumsari, Kelurahan Sambiroto Tembalang.

Peristiwa yang terjadi Rabu (31/1) sekitar pukul 15.30 tersebut, ada yang telah merekam dan videonya telah menyebar di jejaring internet media sosial. Pada gambar berdurasi 01.01 menit tersebut menggambarkan siswa yang masih mengenakan seragam sekolah di sebuah kios, Jalan Wonodri Semarang Selatan, tidak jauh dari sekolahan SMK N3 Semarang. C didatangi seorang laki-laki yang tak lain sang guru berinisial P.

Terlihat laki-laki berkemeja batik warna ungu tersebut menjambak rambut siswanya sambil membentak terhadap C supaya menyerahkan tasnya. Alasannya, C diduga menyimpan sebuah video porno di handphonenya. Kemudian, sambil dijambak, siswa tersebut dibawa keluar ke tepian jalan.

Tak hanya itu, guru yang mengampu mata pelajaran kelistrikan ini marah-marah kepada siswa tersebut sambil menempeleng wajah bagian pipi sebelah kiri. Beberapa saat kemudian, sang guru tiba-tiba menyaut sesatu dari genggaman tangan siswanya yang diduga sebuah kunci kendaraan atau handphone.

Sementara, siswa tersebut hanya terdiam saat ditempeleng dan dibentak-bentak. Pada detik-detik rekaman terakhir, sang guru juga melemparkan tempelengan kepada C, sebelum meninggalkan lokasi kejadian.

Merasa tidak terima anaknya mendapat perlakuan tersebut, Agung Cahyono didampingi kuasa hukumnya, Deo Hermansyah mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, Sabtu pagi (3/2) kemarin.