Oleh: Astati Sad Widjianti MPd *)
Oleh: Astati Sad Widjianti MPd *)

RADARSEMARANG.COM – MEMPERLUAS lingkungan belajar memungkinkan siswa memiliki peluang untuk berinovasi, berkreasi serta mengaktualisasikan diri secara optimal. Selama ini, siswa dan sebagian orang tua selalu membanggakan penilaian dari aspek pengetahuan, dimana orang tua hanya melihat angka-angka di rapor. Pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga aspek keterampilan dan sikap. Selain kemampuan akademis, siswa diharapkan memiliki keterampilan agar tangguh dalam menghadapi kehidupan di masa depan.

Berbagai upaya dapat dilakukan guru guna mengasah keterampilan siswa terutama pada mata pelajaran IPS. Salah satu keterampilan yang dapat dikembangkan dalam mata pelajaran IPS adalah kegiatan market day. Teori-teori dalam mata pelajaran IPS tentang produksi, distribusi dan konsumsi dapat diaplikasikan pada kegiatan market day. Disini siswa bisa berperan sebagai produsen, distributor maupun konsumen.

Market day dilaksanakan dalam satu hari setiap semester, yaitu pada Kegiatan Tengah Semester. Kegiatan ini diikuti semua siswa didampingi wali kelas, dengan mengundang orang tua. Dua minggu sebelum kegiatan dilaksanakan, siswa bersama wali kelas membuat perencanaan seperti barang apa yang akan dijual, cara mengolah dan mengemas atau menyajikan. Barang yang dijual bisa dibuat sendiri atau membeli di tempat lain. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman sekolah. Sekolah menyediakan meja, kursi dan tenda untuk setiap kelas yang dapat digunakan sebagai tempat pameran. Masing-masing kelas dapat menghias sesuai selera sebagai tempat menyajikan hasil karya mereka layaknya sebuah toko kecil. Barang-barang yang dijual bisa berupa makanan, minuman atau hasil keterampilan.

Kegiatan market day dapat membentuk berbagai karakter positif siswa. Jiwa enterpreneur siswa dapat dikembangkan dengan melatih siswa untuk dapat mandiri dan mengelola uang dengan baik. Dari merencanakan, siswa dituntut untuk berlatih berkreasi dan berinovasi. Apabila barang yang dijual adalah barang yang dibuat sendiri, siswa berperan sebagai produsen, mereka harus menghitung berapa uang yang dibelanjakan sebagai modal, berapa biaya produsi yang dikeluarkan, berapa laba yang diharapkan sampai menghitung berapa harga jual yang harus ditetapkan.

Apakah hasil produksinya inovatif atau tidak, hal ini menjadikan tantangan bagi mereka. Karakter sosial ditunjukkan dengan mereka bekerja sama dan bermusyawarah bersama teman satu kelas di bawah bimbingan wali kelas. Apabila barang yang dijual adalah barang yang dibeli dari pihak lain di luar sekolah, siswa harus dapat menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli, biaya transport dan laba yang diinginkan. Sehingga siswa dapat menetapkan harga jual.