“Sampai 2015 kerugian negara akibat korupsi mencapai RP 203,9 triliun. Setara delapan kali lipat APBD Jateng, atau setara dengan 4 juta ruang kelas SD, 66.000 gedung puskesmas, dan jika dibagi ke petani seluruh Jateng setiap petani akan menerima Rp 122 juta,” paparnya.

Koruptor, tambah Pak Dirman, tidak pernah berpikir jerih payah masyarakat yang membayar pajak. “Saya sering melihat mbok-mbok di Pasar Peterongan. Mereka berangkat ke pasar jam 12 malam, jualan sayur daging dan lainnya. Mereka membayar pajak dari rupiah ke rupiah. Kok teganya, pengumpulan pajak dari ribuan bahkan jutaan mbok-mbok pedagang yang bekerja sekian lama tiba-tiba dikeruk dalam satu tempo,” tandasnya.

Korupsi, tandas Pak Dirman, lebih dari sekadar mengambil uang rakyat, uang negara. Tapi pengkhianatan terhadap rakyat dan negara. (har/ida)