Pimpin Apel Kenakan Sarung

643
KENAKAN SARUNG : Saat memimpin apel GP Ansor dan Banser dalam rangka Harlah ke 92 NU, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengenakan sarung sebagai simbol santri. (istimewa)
KENAKAN SARUNG : Saat memimpin apel GP Ansor dan Banser dalam rangka Harlah ke 92 NU, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengenakan sarung sebagai simbol santri. (istimewa)

RADARSEMARANG.COM, CILACAP – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo memimpin apel GP Ansor dan Banser se- Kabupaten Cilacap dalam rangka Harlah ke-92 NU, di Alun-alun Majenang, Kamis (1/2). Ganjar mengajak segenap elemen bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengenakan sarung lurik warna kuning dipadu dengan atasan jas hitam, orang nomor satu di Jateng itu meminta GP Ansor dan Banser merapatkan barisan, bergotong-royong dengan seluruh elemen masyarakat bersama-sama mengawal Indonesia dari berbagai serangan. “Mari kita bersama-sama menjaga NKRI, karena cita-cita negara tidak hanya untuk besok hari, tetapi untuk selamanya dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” katanya saat menjadi pembina Apel.

Gangguan terhadap NKRI, menurut Ganjar, semakin nyata dengan munculnya kelompok-kelompok yang ingin mengganti sistem dan dasar negara. “Termasuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Jika ada pengaruh mengancam keutuhan NKRI, ideologi-ideologi yang tidak sama dengan konstitusi maka Banser terdepan untuk menghadapinya,” tandas Gubernur di hadapan ratusan GP Ansor dan Banser.

Mantan anggota DPR RI itu menjelaskan, gangguan terhadap NKRI selalu ada. Apalagi sekarang era globalisasi, semua tanpa batas yang jelas. Termasuk nilai-nilai di masyarakat baik bidang sosial, politik, budaya maupun lainnya tidak jelas batasannya. “Cara menjaga agar jadi jelas adalah, apakah itu sesuai dengan ideologi dan dasar negara Indonesia,” katanya.

Menurutnya, jika ada perbedaan pandangan, semua harus berembuk, semua diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat itu asli Indonesia. Bukan justru berkelahi, saling menghujat, fitnah, dan menyebarkan berita bohong atau hoax.

“Saya mewakili masyarakat Jateng, mengucapkan terima kasih kepada Ansor dan Banser yang merupakan sedulur tua, karena dua organisasi ini lahir sebelum Indonesia merdeka, dan lebih tua dari partai politik yang ada sekarang,” tegasnya. (amh/ric)