Malapraktik Tukang Gigi

497

RADARSEMARANG.COM – Ibu Dini S Purwono yang saya hormati. Beberapa hari lalu, saudara saya memasang behel atau kawat gigi di tempat praktik tukang gigi yang bukan seorang dokter. Namun seminggu kemudian, justru gusi saudara saya bengkak. Apa ini bisa dianggap malapraktik? Apakah bisa dilaporkan dengan tuduhan malapraktik? Apa ada dasar hukum praktik tukang gigi? Terima kasih atas penjelasannya.

Budi Setyawan, Kendal

081325797xxx

JAWABAN:

Bapak Budi yang saya hormati. Dasar hukum untuk praktik tukang gigi terdapat dalam Pasal 73 ayat (2) jo. Pasal 78 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (“UU Kedokteran”) yang maknanya telah diubah berdasarkan Putusan MK No. 40/PUU-X/2012 (“Putusan MK No. 40/2012”). Berdasarkan kedua pasal tersebut, praktik tukang gigi adalah sah sepanjang mendapat ijin praktik dari pemerintah.

Selain UU Kedokteran, peraturan terkait tukang gigi juga terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 39 Tahun 2014 tentang Pembinaan, Pengawasan Dan Perizinan, Pekerjaan Tukang Gigi (“Permenkes 39/2014”). Pasal 1 angka 1 Permenkes 39/2014, yang dimaksud dengan “tukang gigi” adalah setiap orang yang mempunyai kemampuan membuat dan memasang gigi tiruan lepasan.

Semua tukang gigi yang menjalankan pekerjaan tukang gigi wajib mendaftarkan diri kepada pemerintah daerah kabupaten/kota atau dinas kesehatan kabupaten/kota setempat untuk mendapat izin tukang gigi (Pasal 2 ayat (1) Permenkes 39/2014). Izin tukang gigi tersebut berlaku selama 2 tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan (Pasal 2 ayat (3) Permenkes 39/2014).

Pekerjaan tukang gigi hanya dapat dilakukan apabila (Pasal 6 ayat (1) Permenkes 39/2014): 1)   tidak membahayakan kesehatan, tidak menyebabkan kesakitan dan kematian; 2) aman; 3)   tidak bertentangan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat; dan 4) tidak bertentangan dengan norma dan nilai yang hidup dalam masyarakat.

Pekerjaan tukang gigi tersebut hanya berupa (Pasal 6 ayat (2) Permenkes 39/2014): 1) membuat gigi tiruan lepasan sebagian dan/atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic yang memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan; dan 2) memasang gigi tiruan lepasan sebagian dan/atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic dengan tidak menutupi sisa akar gigi.