33 Pengungsi Tunggu Kejelasan

446
MENGUNGSI : Tempat tinggal Muriam, 60, yang ditempati para pengungsi tanah amblas di Dusun Bendo, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGUNGSI : Tempat tinggal Muriam, 60, yang ditempati para pengungsi tanah amblas di Dusun Bendo, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN–Sudah mengungsi selama 24 hari, nasib warga terdampak tanah PTPN IX yang amblas di Dusun Bendo, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen belum juga jelas. Lantaran, belum diperoleh kesepakatan antara pihak warga dan PTPN IX.

Sebanyak 12 kepala keluarga (KK) total 33 jiwa saat ini mengungsi di dua rumah tetangga mereka di wilayah yang sama yang tidak terdampak. Antaralain di rumah Muriam, 60, sebanyak 10 KK, dan Suji, 40, sebanyak 2 KK. “Kami mengungsi sejak tanggal 9 Januari lalu,” ujar Suprihati, 27, yang mengungsi di rumah Muriam, Kamis (1/2) kemarin. Suprihati bukan kali pertama ini mengungsi. Sewaktu anaknya masih kecil, pernah mengungsi karena rumahnya roboh terkena tanah gerak.

Pengungsi lain, Jumain, 32, mengatakan kesehariannya di pengungsian, semenjak magrib warga yang mengungsi berdatangan. Siang beraktivitas seperti biasa, seperti mencari rumput, bekerja di pabrik maupun bekerja di PTPN. “Siang kalau turun hujan berkumpul di sini,” ujar Jumain yang mengungsi bersama satu keluarganya.

Selama di pengungsian, diakuinya, telah mendapat bantuan logistik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang. “Kemarin sore kiriman logistik datang berupa mi instan, kopi, gula dan air mineral. Untuk malam hari rata-rata sekali menanak nasi sekitar 4 kilogram,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pengungsi lain di rumah Muriam, Hendro Pujiyanto, 28. Bahkan, beberapa perabotan rumah tangga miliknya, turut dibawa ke tempat pengungsian.

Kendati begitu, diakuinya, warga enggan direlokasi lantaran lokasi yang digunakan untuk ganti rugi dinilai tidak sesuai. “Karena itu, kami meminta kejelasan nasib kepada Pemkab Semarang. Kami berharap, pemerintah memperhatikan nasib kami,” katanya. (ewb/ida)