Kunci Berbisnis, Harus Jaga Kualitas dan Komitmen

HM Sukirdi, Perajin Mebel Langganan Gubernur Ismail

345
HM Sukirdi dan Muhammad Erfandi menunjukkan mebel kursi hasil buatannya yang ada di ruang tamu rumahnya. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HM Sukirdi dan Muhammad Erfandi menunjukkan mebel kursi hasil buatannya yang ada di ruang tamu rumahnya. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Berawal dari modal Rp 150 ribu saat memulai bisnis mebel, HM Sukirdi berhasil berhasil memajukan bisnisnya. Bahkan, karyanya menjadi langganan keluarga besar Gubernur Jawa Tengah periode 1983-1993, Muhammad Ismail. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

HM Sukirdi, perajin mebel kursi dan lemari yang memulai bisnisnya sejak 1980 di Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat, masih eksis hingga sekarang. Sejumlah karyanya pernah dipesan oleh keluarga besar Gubernur Jawa Tengah periode 1983-1993, Mayor Jenderal TNI (Purn) Muhammad Ismail, serta sejumlah pengusaha yang ada di Semarang dan Jakarta. Meski begitu, bukan berarti terbebas dari pasang surut usaha. Saat krisis moneter tahun 1997 lalu, juga terkena imbasnya.

Sukirdi mengaku semula hanyalah seorang karyawan di Dian Furniture di Jalan Depok Semarang. Pada tahun 1972, sembari bekerja membuka usaha mebel kecil-kecilan di rumahnya. Namun tahun 1980, akhirnya nekat membuka usahanya sendiri dengan modal awal Rp 150 ribu. Kala itu, hanya bergerak di bidang reparasi, membuat meja, kursi dan lemari.

“Waktu itu, saya ingin mengembangkan bakat dan skill sendiri, makanya nekat membuka usaha sendiri,” kenang HM Sukirdi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di tempat usahanya, Senin (29/1).

Menurut alumni siswa SD Negeri Giri Purwo Jogja dan SMP Nanggulan Jogja ini, bekerja selain untuk kebutuhan keluarga, juga untuk pengembangan bisnis. Alumni SMA Negeri Wates dan Diploma II jurusan Tata Laksana Pabean di Bomzaken Semarang (sekarang sudah tutup, red), tergolong berprestasi. Prestasi itulah, yang meyakinkan dirinya untuk berani mengembangkan bisnis dan tidak tergantung dengan bos. “Pertama kali, sekitar tahun 1980-an, saya punya langganan dari kantor BCA yang dulu kantornya di dekat Gereja Blenduk,” sebutnya.

Bapak lima anak kelahiran, Jogjakarta, 25 Maret 1950 ini juga memiliki pengalaman bisnis bareng sahabat, hingga berkembang dan memiliki 17 karyawan. Sayangnya terjadi selisih pendapat, sehingga bubar kongsi dan kembali memutuskan usaha sendiri sekitar tahun 1992-an.