PKL Taman KB Tolak Direlokasi

489
BAKAL DIGUSUR: Para PKL Taman KB saat menggelar aksi demo di depan Balai Kota Semarang, kemarin. (bawah) Shelter PKL di Jalan Taman Menteri Supeno yang bakal dibongkar. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAKAL DIGUSUR: Para PKL Taman KB saat menggelar aksi demo di depan Balai Kota Semarang, kemarin. (bawah) Shelter PKL di Jalan Taman Menteri Supeno yang bakal dibongkar. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) Taman Menteri Supeno atau lebih dikenal dengan Taman KB Semarang menuntut kejelasan nasib kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Hal ini menyusul rencana pemkot merelokasi para PKL untuk memperlancar pembangunan Taman Indonesia Kaya yang kini tengah dikerjakan pihak ketiga.

“Rencana pembangunan tersebut disusun tanpa diketahui oleh para PKL yang berjualan di sekitar Taman KB. Hanya beberapa hari lalu, PKL Taman KB diminta untuk pindah,” ujar Sri Purwanto, koordinator aksi solidaritas yang digelar di depan Balai Kota Semarang, Senin (29/1).

Dalam aksi ini, para PKL, mahasiswa sejumlah pihak yang tergabung melakukan orasi, membacakan puisi dengan membawa poster bertuliskan “Sudah Rapi, Tertata dan Sesuai Aturan Hukum, Investor Datang Lalu Digusur,” “Semarang Hebat Tanpa Penggusuran”,  dan “Kami PKL Taman KB Menuntut Keadilan”.

Sri Purwanto menilai, ketidakjelasan relokasi yang ditawarkan oleh pemkot ini membuat para PKL merasa resah. Niatan yang dinilai serbamendadak ini, menurutnya, juga berisiko menurunkan bahkan menghilangkan pendapatan para PKL. ”Kalau kita tetep pengen yang lama, tapi direnovasi saja,” ujar Sri Purwanto.

Hal senada dikatakan Sri, 53, pedagang tahu gimbal Taman KB. Ia meminta agar PKL tidak digusur. Ia menolak jika dipindahkan ke shelter jagung bakar di Jalan Pandanaran II seperti yang ditawarkan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang. Menurutnya, di Taman KB terdapat 48 PKL dengan shelter berukuran 4×4 meter. Sementara itu, shelter jagung bakar hanya ada sekitar 39 dengan ukuran yang lebih kecil, yakni 3×3 meter.

”Kalau kami dipindah ke sana, mau jadi apa? Ukurannya sudah kecil, masih mau dibagi dua. Belum lagi kita ini kuliner, tentu asap jagung bakar juga akan mengganggu. Ini yang juga perlu dipikirkan,” tegasnya.