Gunakan Kaleng Bekas, Sudah Dipasarkan Hingga Kalimantan

Mahasiswa Unissula Temukan Alat Pengusir Tikus Ramah Lingkungan

1072
INOVATIF: Sri Wahyuti Hestiningsih, Achmad Arie Prativi dan Tri Puji Ardianti, serta Kaldio temuannya. (DOKUMEN PRIBADI)
INOVATIF: Sri Wahyuti Hestiningsih, Achmad Arie Prativi dan Tri Puji Ardianti, serta Kaldio temuannya. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Tiga mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menciptakan alat pengusir tikus dari kaleng bekas. Namanya Kaldio. Bahkan, kini produknya tersebut sudah mulai dipasarkan di wilayah Jateng dan Kalimantan. Seperti apa?

MUHAMMAD ISMAIL LUTFI

TIKUS kerap menjadi momok yang menyebalkan. Tak hanya di lingkungan rumah, tapi juga di areal persawahan. Berhektare-hektare tanaman padi bisa ludes dalam sekejap akibat diserang kawanan tikus. Hal itulah yang memicu tiga mahasiswa Unissula ini menciptakan alat pengusir tikus yang ramah lingkungan. Ketiganya, Sri Wahyuti Hestiningsih (Fakultas Ekonomi Akuntansi), Achmad Arie Prativi (Teknik Elektro) dan Tri Puji Ardianti (Fakultas Ekonomi Akuntansi).

Menurut Achmad Arie Prativi, pembuatan alat pengusir tikus itu berawal saat dosennya memberikan tugas sebagai syarat kelulusan mata kuliah. Ia lantas bekerja sama dengan Sri Wahyuti Hestiningsih dan Tri Puji Ardianti lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Hingga tercetuslah ide membuat pengusir tikus dari kaleng bekas. Alat tersebut kemudian diberi nama Kaldio atau kaleng  audio elektrik pengusir tikus ramah lingkungan.

Dijelaskan, cara kerja produk ini cukup simpel. Ia memanfaatkan gelombang ultrasonik  yang frekuensinya sudah diatur untuk  mengusir tikus. Alat ini bisa digunakan  di tempat yang tidak ada jaringan listriknya, namun cukup menggunakan batu baterai. “Sudah diatur dengan gelombang ultrasonik dan frekuensinya. Juga sudah disetting bisa efektif mengusir tikus di radius 10 meter di sekitar Kaldio,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Arie mengakui, sebenarnya sudah ada produk serupa sebelumnya. Namun  alat temuannya lebih canggih. Sebab, produk lain harus menggunakan aliran listrik. Sedangkan Kaldio tidak perlu menggunakan listrik, cukup pakai baterai yang lebih efisien. “Alat ini bisa ditempatkan di mana saja tanpa perlu aliran listrik. Kami cukup memanfaatkan pralon dan kaleng bekas sebagai pembungkusnya,” paparnya.

Hasil temuannya itu lantas diuji coba di laboratorium dan di lapangan. Ia langsung mengujinya di rumah yang banyak tikusnya. “Selesai dibuat langsung saya uji, Mas. Kami menggunakan aplikasi pendeteksi gelombang ultrasonik, multimeter, osciloskop dan langsung dengan tikus. Alhamdulillah berhasil. Tikus langsung menyingkir,” jelas mahasiswa kelahiran Pati ini.

Temuannya itu sudah pernah dilombakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Makassar pada Agustus 2017 lalu. Selain itu, produknya juga pernah diikutkan lomba di Kalimantan, dan dipajang di sejumlah acara pameran. “Kami pernah mengikuti pameran tepat guna di Pekalongan dan di kampus Unissula,” ujar pemuda kelahiran Mei 1997 ini.