Sulit Menindak, Karena Tak Ada Laporan Korban

601
Dr drg Diyah Fatmasari MDSc (DOKUMEN PRIBADI)
Dr drg Diyah Fatmasari MDSc (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – PRAKTIK tukang gigi dan jasa pemasangan behel di Semarang seakan tidak ada matinya. Selain di offline, mereka juga menawarkan jasa secara online di media sosial. Entah karena tren atau harganya yang murah, sehingga keberadaan mereka menjadi alternatif pilihan masyarakat.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Semarang, Dr drg Diyah Fatmasari MDSc mengatakan, jika jasa tukang gigi atau salon yang menyediakan layanan pemasangan behel atau veneer (gigi kelinci) memang sudah berlangsung cukup lama. “Pada tahun 2016, kami pernah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan pihak kepolisian dengan memberikan pengaduan adanya salon ilegal tersebut,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sayangnya, tindakan ilegal tersebut belum bisa ditertibkan, karena pihak kepolisian tidak bisa melakukan tindakan lantaran tidak ada laporan dari masyarakat yang menjadi korban. Ia menilai adanya UU Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004 dibuat adalah untuk melindungi pasien, karena pemasangannya harus dilakukan oleh profesional. “Sebenarnya sudah sering sekali disosialisasikan, namun mungkin kurang gencar, sehingga belum dipahami masyarakat,”jelasnya.

Aturan lainnya adalah pasal 78 tentang praktik kedokteran yang menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain  dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan  seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki  surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin  praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana  penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 150 juta.

“Selain itu sesuai dengan peraturan Menkes RI Nomor 39 Tahun 2014, menyebutkan jika tukang gigi di daerah terkait izin dan pembinaannya dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,”ucapnya.

Sementara pada pasal 6 di peraturan dari Menkes tersebut menjelaskan jika pekerjaan tukang gigi adalah membuat gigi tiruan atau penuh lepasan yang terbuat dari heat cuirng acrylic dan tidak boleh menutupi sisa akar gigi. Jika ada pasisen yang datang dengan sisa akar, maka harus dikonsultasikan ke dokter ggi untuk mencabut akar yang sisa.