31 C
Semarang
Minggu, 29 November 2020

Kuliah S2 di Dua PTN, Sudah Hasilkan 100 Tulisan

Mokhamad Abdul Aziz, Mahasiswa yang Kolumnis dan Penulis Buku

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

RADARSEMARANG.COM – Mokhamad Abdul Aziz tak hanya aktif di organisasi, mahasiswa S2 UIN Walisongo Semarang dan S2 Universitas Diponegoro (Undip)  ini juga seorang kolumnis dan penulis buku.

SITI QONIATUN NI’MAH

SAAT ini, Mokhamad Abdul Aziz Umum menjabat Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Jawa Tengah. Pria kelahiran Rembang, 16 November 1991 ini juga seorang penulis artikel (kolumnis) yang ulung. Bahkan, sejak 2015, ia sudah 100 lebih tulisannya yang dimuat di berbagai koran lokal maupun nasional. Selain itu, ia juga sudah menghasilkan dua buku  berjudul Membangun Umat dan Bangsa serta Korupsi dan Ancaman Demokrasi.

“Bagi saya, menulis itu soal cara belajar. Ketika kita menulis, tentu harus punya masalah terlebih dahulu. Berarti harus baca yang banyak dong. Baca, tulis, baca tulis. Begitu terus. Itu kan kita diajari sejak PAUD,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, menulis itu tergantung kebiasaan. Dengan terbiasa melatih diri untuk menuangkan ide-ide yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk tulisan, nanti dengan sendirinya logika yang ada dalam pikiran tersebut akan terlatih.

Nah, apa yang kita tulis biasanya akan lebih melekat di kepala. Jadi, kalau sewaktu-waktu menyampaikan tema yang sudah pernah kita tulis, akan lebih kena dan runtut,” jelas pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Monash Institute, Ngaliyan, Semarang ini.

Diakui, menulis merupakan sebuah jalan yang harus dilalui untuk menjadi seorang ilmuwan. “Kalau sekelas penulis pemula seperti saya ini ya itu, latihan. Kalau sudah jadi ilmuwan kondang, itu kan bisa jadi jalan dakwah juga tho, bagi seorang muslim. Mana ada ilmuwan yang tidak menulis? Nah, saya berharap bisa menuju ke sana,” tutur mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Walisongo yang akan diwisuda Maret ini.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...