Cinta Budaya Lokal

433
Randyani Rarasati (DOKUMEN PRIBADI)
Randyani Rarasati (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – DI tengah banyaknya generasi muda yang menggandrungi budaya luar, Randyani Rarasati, justru lebih mencintai budaya tradisional, terutama tarian Jawa. Bagi mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) ini, tarian tradisional memang layak untuk dibanggakan. Sebab, lewat tari tradisional dirinya dapat belajar banyak hal.

”Terutama belajar budaya kita sendiri. Kemudian kita bisa belajar melatih konsentrasi, karena menari itu tidak sekedar gerak saja. Harus menyelaraskan dengan musik,” jelas perempuan yang akrab disapa Raras ini.

Kecintaan pada tarian bermula sejak duduk di bangku SD. Orangtuanya memasukkan perempuan kelahiran April 1996 ini ke sebuah sanggar tari. Bisa mengikuti dan memenangi lomba, kecintaannya pada tarian semakin memuncak.  ”Dulu di tingkat nasional kami masuk sepuluh besar,” ujar perempuan berkacamata ini.

Dengan segudang prestasi yang dimilikinya, tak heran jika Raras dan teman-temannya dipercaya untuk membawakan tarian pada prosesi kirab pusaka di tempat kelahirannya. Lima tahun terakhir, bersama rekan-rekannya, Raras dipercaya menjadi penari pager bumi, di Banyumas. ”Pernah juga nari di Istana Negara saat upacara Agustusan,” ucapperempuan yang kini aktif di dunia jurnalistik ini.  (sga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here