PDAM Stop Aliran ke Rusunawa

510
PAM MATI : Aliran air PAM Blok A Rusunawa Kaligawe diputus PDAM Kota Semarang, Sabtu (27/1). (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PAM MATI : Aliran air PAM Blok A Rusunawa Kaligawe diputus PDAM Kota Semarang, Sabtu (27/1). (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Warga penghuni rumah susun sistem sewa (Rusunawa) Kaligawe, kesulitan air bersih. Sebab, pihak PDAM telah memutus suplai air bersih ke jaringan rusunawa, karena penghuni dianggap belum membayar tagihan lebih dari 10 bulan.

Sementara sejumlah warga mengaku telah membayar tagihan air PDAM lewat koordinator warga. Akibatnya, warga pun kesulitan memenuhi kebutuhan memasak dan MCK. Warga pun harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli gallon dan meminta air di blok lain.

“Saya harus membeli gallon untuk keperluan memasak, mencuci piring, dan kebutuhan MCK. Kalau setiap hari seperti ini ya boros,” ujar Suwatik, 46, warga rusunawa.

Ketua RW X, Sudrayana mengatakan, setidaknya warga di 96 unit rusun yang tidak bisa mendapatkan aliran air dari PDAM. Perusahaan pelat merah tersebut telah memutus suplay air ke rusunawa karena dianggap menunggak pembayaran.

“Pemutusan ini dilakukan karena warga rusun belum membayar tagihan selama sepuluh bulan. Diduga uang untuk membayar tersebut digelapkan oleh ketua paguyuban yang saat itu dipercaya warga mengurus pembayaran,” katanya.

Menurutnya, warga sudah membayar tagihan mulai Oktober 2016 hingga Agustus 2017 sesuai tunggakan yang disebutkan oleh PDAM, namun warga menduga uang yang seharusnya digunakan untuk membayar tagihan justru digelapkan oleh ketua paguyuban.

“Awalnya warga sudah meminta penjelasan dari ketua paguyuban, namun setiap warga meminta bukti pembayaran selalu tidak ditunjukkan dan justru menghindar dari kejaran warga,” imbuhnya.

Humas PDAM Trita Moedal Kota Semarang, Joko Purwanto menjelaskan, pihak rusunawa Kaligawe sebelumnya memiliki tunggakan sekitar Rp 20 juta (saat pengurus lama). Pihaknya sudah memberikan peringatan agar warga segera membayar tunggakan. Sempat dilakukan mediasi dan muncul kesepakatan warga bisa mengangsur tunggakan sebanyak 20 kali.

“Sempat membayar hanya beberapa kali saja, namun setelah itu tidak lagi.  Untuk masalah internal antara pengurus lama dan baru, kami tidak tahu. Kami hanya berharap warga bisa melunasi tunggakan, karena kami juga sudah memberi toleransi lama sekali,” tegas Joko. (hid/zal)