Matematika Bukan Sekadar Hitungan

614
Oleh: Bayu Wardani SPd
Oleh: Bayu Wardani SPd

RADARSEMARANG.COM – MATEMATIKA identik dengan hitungan yang dipenuhi rumus dan angka. Tidak dapat dipungkiri bahwa mengajar matematika berkaitan dengan fakta, prinsip, konsep dan prosedur yang berkutat dengan rumus dan angka. Hal inilah yang menyebabkan matematika dipandang sebagai pelajaran yang sulit dan menyeramkan. Pada prinsipnya, mengajarkan matematika bukanlah sebatas transfer pengetahuan dan keterampilan memecahkan masalah, namun di balik itu ada sebuah nilai dan prinsip hidup yang perlu dikembangkan kepada siswa. Manakala, sang guru mampu menyelipkan makna dan hakikat hidup yang tersembunyi di balik prinsip matematika, pembelajaran akan terasa indah dan bermakna pada diri siswa.

Cara yang dapat dilakukan guru untuk mengajarkan prinsip hidup melalui pembelajaran matematika melalui pengelolaan kelas yang memegang prinsip-prinsip matematika. Rumus dan prinsip yang dibangun di matematika diturunkan dari prosedur yang taat asas, jujur, dan tidak ada sebuah kebohongan. Taat asas inilah dapat menjadi acuan bagi guru dalam membentuk tatanan di kelas. Tata tertib dalam pembelajaran perlu dibuat dan ditaati bersama. Menjaga konsistensi aturan dalam pembelajaran secara terus-menerus akan membentuk karakter siswa.

Kita pasti ingat aturan atau prinsip perkalian, bahwa bilangan positif dikalikan positif hasilnya positif, pada dasarnya memiliki makna sesuatu yang benar dari sebuah kebenaran merupakan hal yang benar. Demikian juga dengan bilangan positif dikalikan negatif menghasilkan bilangan negatif, mengajarkan kepada kita bahwa mengatakan benar dari suatu kesalahan merupakan pembohongan. Bilangan negatif dikalikan negatif hasilnya negatif, mengajarkan kepada kita bahwa mengatakan salah dari suatu kebenaran adalah perbuatan fitnah dan mengatakan salah dari suatu kesalahan adalah suatu kebenaran. Prinsip perkalian tersebut dapat menjadi teladan betapa pentingnya taat pada aturan yang berlaku.

Taat asas yang terus dilakukan akan melahirkan prinsip-prinsip lainnya seperti kejujuran yang berkeadilan. Ketika perilaku mencontek masih dilakukan oleh siswa, berarti ada suatu penyimpangan terhadap aturan yang berlaku, sehingga melahirkan ketidakjujuran dalam bertindak. Memberikan punishment yang mendidik merupakan salah satu bentuk agar semua anggota tetap taat pada aturan yang berlaku.Kejujuran yang berkeadilan juga perlu dicontohkan dari guru dalam melakukan suatu penilaian, sehingga tidak akan ditemui dari guru matematika yang ngaji alias “ngarang biji”, karena prinsip sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Penyampaian aturan yang dilakukan di awal pembelajaran sebagai penguatan dan harapan tentang perilaku positif untuk mengurangi perilaku negatif. Kesepakatan dalam menaati untuk berperilaku positif menjadikan pembelajaran berjalan secara efektif, sehingga dapat menjadi acuan bagi guru melakukan penilaian observasi terhadap sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung.

Tidak berlebihan apabila kita merenungi kembali tentang kompetensi inti 1 dan 2 yang tertuang dalam kurikulum nasional untuk disikapi sebagai harapan guru agar terbentuk karakter siswa yang diharapkan. Jangan berharap nilai-nilai kejujuran akan tertanam dan menjadi perilaku pada siswa kalau guru tidak mampu menjalankannya, jangan berharap disiplin pada siswa kalau guru tidak disiplin dan seterusnya. Guru yang diharapkan menjadi teladan, pembangun dan pendorong seperti dalam semboyan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani hanya akan menjadi impian tanpa realita, apabila tidak ada konsistensi untuk mewujudkannya. (tj3/aro)

 Guru SMK Negeri 7 Semarang