Bantai Sopir Grab Car, Hanya Butuh 7 Menit

32826

Saat itu, korban sempat melawan dengan menendangkan kakinya ke arah dashboard mobil dan kaki kanannya keluar jendela mobil hingga spionnya rusak. Namun korban tak mampu bergerak bebas lantaran seatbelt masih terpasang, dan kedua tangannya dipegangi oleh tersangka TRA. Selain itu, kursi korban juga ditahan dengan lutut IBR dari belakang.

“Dari reka ulang ini kita lihat kedua tersangka hanya butuh 5 sampai 7 menit untuk menghabisi korban,” jelas Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Fahmi Arifrianto di sela rekonstruksi.

Adegan selanjutnya menunjukkan ketika IBR turun dari mobil, sementara TRA masih di dalam mobil memegangi pisau yang menempel di leher korban. Berikutnya, IBR menarik tubuh korban hingga terjatuh di pertigaan Jalan Cendana IV. Usai membuang jasad korban, IBR mengambil alih kemudi, dan membawa kabur mobil korban.

Reka ulang selanjutnya dilakukan di TKP ketiga, yakni di Jalan HOS Cokroaminoto, yang menjadi tempat tersangka meninggalkan mobil korban, dan berlanjut di sekitaran kawasan Banjir Kanal Barat untuk menyembunyikan handphone korban.

Fahmi mengatakan, rekonstruksi ini untuk melengkapi berkas penyidikan. Ada sekitar 28 adegan, dan dilakukan di 3 TKP. Mulai dari awal pemesanan Grab Car, TKP pembunuhan, dan TKP penyimpanan barang bukti.

Ia mengaku, hingga saat ini, pihaknya masih belum dapat memastikan motif yang jelas. Namun, ada dugaan hal itu dikarenakan ingin menunjukkan eksistensi hingga nekat melakukan pembunuhan. “Motivasi lain, eksistensi diri. Informasinya juga karena di sekolahnya jadi korban bullying, tapi itu belum dibuktikan,” terangnya.

Selama rekonstruksi, istri korban, Nur Aini, tak kuasa menahan tangis. Ia beberapa kali mengucapkan istigfar. Ibu satu anak yang masih bayi ini sempat pingsan saat menyaksikan tersangka IBR dengan sadisnya menggorok leher suaminya hingga tewas bersimbah darah. “Ya Allah. Kok tega banget sama suami saya,” teriaknya.

Di TKP lainnya, kakak kandung korban juga histeris, dan marah hingga menghujat kedua tersangka.

Sedangkan, ibu angkat tersangka IBR, menangis dan tampak masih tidak percaya putranya menjadi otak dan eksekutor pembunuhan sadis itu. Terlihat di setiap TKP, ratusan warga yang penasaran ikut melihat dan prihatin dengan aksi sadis kedua tersangka tersebut.

Terpisah, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jateng, Sri Winarna, mengatakan, pihaknya selama beberapa hari telah mencari informasi tentang keseharian kedua pelaku terutama dari keluarga. Menurutnya, keseharian tersangka dikenal pendiam dan sopan.

“Dari hasil pemeriksaan psikologi dan test urine mereka nihil (narkoba). Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan mereka psikopat,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Pihaknya juga mendapat informasi bahwa tersangka TRA termasuk siswa berprestasi sebagai atlet renang dan pencak silat. Terkait dengan korban bullying, pihaknya belum menemukan fakta tersebut, namun tidak menutup kemungkinan hal itu yang menjadi sebab aksi nekat keduanya.

“Sejauh ini motif pembunuhan untuk eksistensi diri. Saat ini, lebih fokus pada perlindungan tersangka karena mereka masih berusia di bawah 18 tahun. Perlindungan itu dari aspek hukum dan psikologis tersangka,” tandasnya. (tsa/aro)