29.037 Anak Kurang Gizi

520
Junaedi (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
Junaedi (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Sedikitnya 29.037 anak di Kabupaten Wonosobo masuk kategori kurang gizi, atau sekitar 41,12 persen dari jumlah anak di Wonosobo pada tahun 2013. Sehingga Wonosobo masuk dalam daftar 100 kabupaten/kota prioritas untuk intervensi stunting atau gangguan pertumbuhan karena kekurangan asupan gizi.

“Sebanyak 29.037 anak mengalami gangguan pertumbuhan pendek dan sangat pendek,” kata Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo Junaedi saat membuka rangkaian acara peringatan Hari Gizi Nasional di Alun-alun Wonosobo. Jumat (26/1) pagi..

Oleh karena itu, penanganan stunting perlu koordinasi antarsektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat umum dan unsur lainnya. “Karena stunting pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek di usianya,” katanya.

Dikatakan Junaedi, kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Dengan demikian, 1.000 hari pertama kehidupan seyogyanya mendapat perhatian khusus, karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan.

Kondisi seperti ini, kata dia, jika tidak segera diatasi akan sangat berpengaruh terhadap kinerja pembangunan Indonesia baik yang menyangkut pertumbuhan ekonomi kemiskinan dan ketimpangan. Pada 2018 ini akan dilaksanakan program nasional penanggulangan stunting melalui berbagai upaya. Di antaranya dengan program pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil dan remaja putri, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, pemenuhan gizi pada anak bawah dua tahun, persalinan dengan tenaga kesehatan, inisiasi menyusu dini, pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI pada anak baduta, pemberian imunisasi lengkap dan vitamin A, pemantauan pertumbuhan di posyandu.

“Kita akan melakukan gerakan masyarakat untuk hidup sehat (germas) serta pencegahan penyakit kecacingan melalui pemberian obat cacing dan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan,” tegasnya. (ali/ton)