ASRI : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, melepas burung merpati di Kelurahan Kedungwuni Timur, kemarin. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
ASRI : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, melepas burung merpati di Kelurahan Kedungwuni Timur, kemarin. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Kabupaten Pekalongan pernah mendapat predikat sebagai kabupaten terkumuh di Jawa Tengah pada tahun 2014 lalu. Namun di masa kepemimpinan Asip Kholbihi, mulai 2017 dicanangkan kegiatan penataan lingkungan permukiman berbasis komunitas (PLPBK) dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat (SLBM), sebagai program kota tanpa kumuh (Kotaku).

Pada tahun 2014 kawasan kumuh di Kabupaten Pekalongan mencapai  671 hektare, kini menjadi 500 hektare. Pada 2019 mendatang ditargetkan kawasan kumuh berkurang menjadi 333 hektare.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, mengungkapkan bahwa kawasan kumuh saat ini, mulai terurai secara pasti melalui kegiatan PLPBK dan SLBM. Dua kegiatan tersebut harus dijalankan secara kontinyu.

“Kurun waktu 2 tahun saja, Pemda Pekalongan telah mampu mengurangi kawasan kumuh hingga 136 hektare, yakni dari daerah kumuh menjadi kawasan asri. Seperti di Dukuh Gending Kelurahan Kedungwuni Timur ini, kita mampu mengurai kawasan kumuh hingga 24 hektare, ” ungkap bupati, Jumat (26/1).

Pihaknya optimistis pada tahun 2021 permasalahan kawasan kumuh akan teratasi. Mengingat warga Kabupaten Pekalongan, setiap hari Jumat secara rutin melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan masing-masing.

Wilayah yang kumuh paling besar wilayah Tirto sekitar 333 hektare, khususnya yang terdampak rob. Pihaknya pun optimis segera teratasi, mengingat  akan ada pembangunan tanggul penahan rob. “Ditarget selesai pada 2019,” kata Asip. (thd/zal)