RADARSEMARANG.COM, SEMARANG –  Dinas Perdagangan Kota Semarang meminta agar pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Taman KB Jalan Menteri Supeno segera persiapan untuk mengosongkan shelter di kawasan tersebut. Maksimal awal Februari mendatang harus sudah dikosongkan karena pelaksana proyek pembangunan Taman Indonesia Kaya (TIK) segera melakukan pembongkaran shelter PKL. Taman KB tersebut akan segera direnovasi.

Meski demikian, hingga saat ini Dinas Perdagangan Kota Semarang belum menemukan tempat relokasi secara khusus untuk menampung PKL selama proses pembangunan. Sementara ini, rencananya pedagang akan ditempatkan di tepi jalan atau di bawah shelter.

“Saya minta PKL segera memersiapkan shelter untuk segera dikosongkan. Shelter tersebut segera akan dibongkar pada Minggu pertama Februari,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Kamis (25/1).

Pihaknya mengakui, sejauh ini belum ada tempat yang tepat untuk relokasi para pedagang Taman KB. Para pedagang meminta relokasi tidak jauh dari Taman KB, sementara Pemkot Semarang tidak memiliki lahan kosong di sekitar Taman KB. “Jadi saya minta PKL berjualan di tepi jalan sementara, hingga proses pembangunan selesai,” katanya.

Shelter yang saat ini digunakan untuk berjualan akan dibongkar dan dibangun dengan konsep baru. Tentunya, ke depan shelter PKL tersebut akan lebih bagus, kondusif dan nyaman. “PKL kami minta untuk pindah sementara, dan membuat lapaknya sendiri di tepi jalan,” katanya.

Keberadaan relokasi PKL di tepi jalan Taman KB, diakuinya rawan berdampak tersumbatnya lalu-lintas di jalur tersebut. Terutama di depan SMAN 1 Semarang. Tetapi apa boleh buat, pihaknya kesulitan mencarikan tempat relokasi yang lebih tepat. “Diperkirakan membutuhkan waktu tiga bulan, setelah itu PKL dipindah ke tempat baru,” katanya.

Ketua paguyuban pedagang Taman KB Bersatu, Marlan, mengatakan para pedagang tidak keberatan direlokasi di tepi jalan Taman KB, selama proses pembangunan taman baru. Tetapi para pedagang meminta Dinas Perdagangan Kota Semarang seharusnya membangunkan lapak terlebih dahulu. “Kami tidak masalah dipindah, tetapi harus dibangun lapak terlebih dahulu,” katanya.

Pihaknya mendukung pembangunan Taman Indonesia Kaya (TIK) di Taman KB. Hal yang terpenting adalah bagaimana cara agar para pedagang tidak terputus untuk berjualan. Sebab, para pedagang telah berjualan puluhan tahun mencari nafkah di tempat tersebut. “Tempat lapak harus disediakan terlebih dahulu, baru kami akan pindah,” katanya. (amu/bas)