JELASKAN SRG : Sekreatris KBI, Eny Juliana yang didampingi jajarannya menjelaskan tentang Sistem Resi Gudang di kantor KBI, Jakarta, beberapa hari lalu. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JELASKAN SRG : Sekreatris KBI, Eny Juliana yang didampingi jajarannya menjelaskan tentang Sistem Resi Gudang di kantor KBI, Jakarta, beberapa hari lalu. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Jakarta mendorong masyarakat Indonesia memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG) lebih masif lagi seperti di India yang sangat maju. Pasalnya dengan SRG ini, tidak hanya meminimalisasi petani dari kerugian akibat dibeli murah oleh tengkulak, tapi juga meningkatkan nilai jual komoditi dan mendorong petani menjadi pebisnis.

“Meskipun Indonesia negara agragris penghasil beragam komoditas, namun kurang memanfaatkan pelayanan resi gudang,” kata Sekreatris KBI, Eny Juliana yang didampingi Agung Waluyo dan jajarannya di kantor KBI, Jakarta, beberapa hari lalu.

Menurutnya, saat ini ada 14 komoditi yang memanfaatkan SRG ini. Di antaranya, rotan, coklat, timah, garam, gabah, beras, kakao, lada, kopi, rumput laut, karet, jagung, gambir, dan kopra. “Bahkan saat ini ada 26 asosiasi rumput laut, 15 sampai 20 persen diantaranya memanfaatkan skema resi gudang,” jelasnya.

Manfaatnya SRG ini, jelasnya, untuk menunda jual. Agar petani tidak terbelenggu dengan tengkulak yang biasanya menentukan harga sangat murah, namun menjual ke konsumen lebih mahal. Artinya selama ini, keuntungan tengkulak jauh lebih besar ketimbang petani. “Tapi dengan Resi Gudang, petani bisa menentukan harga sendiri atas hasil bumi yang dihasilkan,” jelasnnya.

Menurutnya, petani tidak usah ragu kalau barang disimpan dalam jangka waktu tertentu dalam SRG ini. Karena barang yang masuk ke gudang, akan diuji mutu dan dijaga mutunya. “Namun untuk memanfaatkan SRG ini, petani bisa bergabung dengan asosiasi atau gabungan kelompok tani (Gapoktan). Kemudian melalui pemerintah daerah diusulkan ke Departemen Perdagangan,” tuturnya.

Bahkan, kata Eny, KBI akan mendorong SRG ini seperti aplikasi transportasi online seperti Gojek, Grab, atau Uber. Sehingga bisa inline dengan truk penjual maupun pembeli. “Kami masih mencoba membuat aplikasi. Bahkan sudah dicoba dibuat dari Sulawesi Selatan,” tuturnya.