Probowatie Tjondronegoro (IST)
Probowatie Tjondronegoro (IST)

RADARSEMARANG.COM – PSIKOLOG Probowatie Tjondronegoro berpendapat bahwa dua remaja yang menjadi pelaku pembunuhan driver taksi online Grab Car merupakan pengaruh lingkungan. Ini lantaran keduanya sudah memasuki usia sedang mencari jati diri.

Menurutnya, anak-anak seusia mereka merasa kiamat, jika tidak memiliki grup atau kelompok. Akibatnya, remaja rela melakukan apapun demi mendapatkannya. “Lingkungan sangat berpengaruh bagi mereka. Meskipun alim, kemudian ketemu anak nakal dan tidak bisa ikut geng, menurut mereka kiamat. Kalau enggak ikut (nakal) dibilang banci. Lama-lama jadi pola dan perilaku,” kata Probo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (24/1) kemarin.

Probo mengatakan, hal ini tidak hanya berlaku bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Bahkan, anak-anak dari keluarga kaya pun bisa mengalaminya. Terlebih, jika mereka jarang berkomuniasi dengan orangtua dan keluarganya di rumah.

“Di rumah tidak ada model panutan atau mungkin hubungan dengan orangtua tidak terjalin baik karena sibuk. Komunikasi di rumah tidak jalan, orangtua hanya bisa melarang tanpa ada solusi, akhirnya mereka mencari jati diri keluar,” terangnya.

Ketika mereka sudah menemukan tempat yang mau mengakui dirinya, imbuh Probowatie, maka lingkungan apapun akan dengan mudah dijalaninya, termasuk lingkungan rusak sekalipun. “Kalau orangtua melarang-larang, anak jadi serba salah, tapi tidak diperhatikan. Makanya, mereka akan mencari tempat yang memperhatikan mereka,” ujarnya.

Probo membeberkan, secara psikologis usia 15 atau 16 tahun sudah bukan anak kecil yang nakal yang sembuh keesokan harinya. Namun, tingkah polahnya sudah mulai tertanam, sehingga lingkungan sangat berpengaruh.

“Anak 15-16 tahun itu perilakunya sudah tertanam, tidak hanya saat ini nakalnya. Mereka belum memiliki kontrol, tidak tahu manajemen waktu, manajemen keuangan dan takut kehilangan teman,” ungkapnya.

Probo menegaskan, keluarga menjadi pemegang peran utama agar anak-anak dapat berperilaku baik. Para orangtua, harus menjadi teman, jangan hanya menuntut sesuatu tanpa memberikan solusi.

“Ayolah para orangtua, rembugan dengan anak. Bukan soal kuantitasnya, tetapi kualitas. Jadikan rumah sebagai tempat minggat ketika (anak) ada masalah, bukan justru sebaliknya minggat karena ada masalah,” katanya.

Atas kejadian ini, anak-anak tersebut yang harus menjalani proses hukum, Probo menyarankan agar jangan dikucilkan, namun direhabilitasi. Untuk melakukan rehabilitasi, yang terbaik adalah peran orangtua. “Mereka memang salah, tapi carikan solusi. Jangan sampai mereka merasa dibuang, karena hal itu justru akan semakin menjadi-jadi. Orangtua mulailah perhatian, Tanya apa kemauannya. Mungkin saja, mereka tidak bermaksud membunuh,” katanya. (tsa/ida)