PANEN RAYA: Menteri Pertanian Amran Sulaeman mencoba mesin pemanen saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN RAYA: Menteri Pertanian Amran Sulaeman mencoba mesin pemanen saat panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah, Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Petani Kabupaten Demak kemarin (23/1),menyuarakan penolakan terhadap impor beras secara langsung di hadapan Menteri Pertanian, Amran Sulaeman. Suara para petani tersebut menggema setelah Bupati Demak HM Natsir menanyai sejumlah petani yang ikut hadir dalam kegiatan panen raya di Desa Sari, Kecamatan Gajah.

Bupati Demak HM Natsir menegaskan, wilayahnya surplus beras, sehingga tidak perlu beras impor. “Apalagi, sekarang lagi panen raya. Coba saya tanya bapak-bapak ini apakah masih perlu beras impor?”tanya bupati yang berdiri di atas panggung.

Secara serentak, para petani yang menghadap ke panggung tempat bupati dan Menteri Pertanian berada bersama-sama menolak impor beras oleh pemerintah.

“Jadi, Bapak Menteri Pertanian tahu sendiri bagaimana suara para petani kita ini,”ujar bupati. Menurutnya, Kabupaten Demak sehari kemarin areal sawah yang panen raya mencapai 7 ribu hektare. Sedangkan padaFebruari nanti luasan panen raya mencapai 38 ribu hektare.

“Kalau melihat kondisi seperti ini, tidak kekurangan pangan. Justru kita surplus. Saat panen produksi melimpah tapi harga turun,”katanya.

Anggota DPD RI asal Jateng, Detty Eka Pratiwi, juga menegaskan, DPD juga telah menyampaikan sikapnya menolak impor beras. “Impor beras fenomenal tapi tidak bagus untuk kita semua (petani). Petani dimanapun berada merasa heran mengapa ada impor beras. Padahal program Kementerian Pertanian adalah tanam padi tiap hari. Cadangan beras juga cukup untuk beberapa bulan kedepan. Cetak sawah baru juga terus dilakukan. Karena itu, tidak ada alas an untuk impor beras,” ujarnya.

Menanggapi penolakan impor beras ini, Menteri Pertanian Amran Sulaeman mengatakan, dirinya sudah berkeliling nusantara, termasuk melihat dari helikopter dari Jawa Timur ke barat, termasuk ke Demak. Dari pengamatannya, semua sedang panen raya. Di Jawa Tengah sendiri ada 300 ribu hektare panen. Jadi, ada sekitar  1,8 juta ton setahun atau 900 ribu ton sekali panen. Dan, Jateng hanya butuh 265 ribu ton untuk konsumsi. “Kalau kondisinya seperti ini, saya sampaikan berkali-kali tidak perlu impor,”tegasnya.(hib/aro)