Oleh: Sentot Suciarto A

RADARSEMARANG.COM – KETIKA ada kebijakan non cash atau harus pakai kartu elektronik untuk lewat gerbang tol maka terjadi demo atau keresahan masyarakat. Demikian pula muncul penolakan atau keresahan masyarakat terhadap taksi online dan gojek online. Lain halnya ketika memberi makan anak-anak kecil dan susah membuat anak konsentrasi, maka gadget atau HP diberikan ke anak untuk mainan sambil disuap makan. Fenomena dimana ada perubahan mendadak tidak terduga atau disrupsi akan terus terjadi. Bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi situasi disrupsi seperti ini?

Disrupsi ini akan selalu terjadi diberbagai bidang. Dibidang SDM akan memunculkan alat otomatis yang membuat sedikit pekerja. Dibidang keuangan muncul ATM dimana-mana dan semakin sedikit cabang dan teller dibutuhkan. Fintech atau financial technology akan berkembang terus. Dibidang marketing sudah diketahui bersama adanya E-Marketing, jual beli lewat online dan sebagainya. Dibidang operation muncul alat-alat otomatis dengan sedikit pekerja. Kapabilitas pekerja juga dituntut menguasai teknologi dan berbagai bahasa secara global.

Perubahan di bidang teknologi saat ini sangat cepat terasa. Product development atau perkembangan produk sebetulnya mengikuti customer value management CVM (manajemen nilai pelanggan).  CVM mengatur nilai yang diminati pelanggan untuk setiap produk yang diluncurkan untuk pasar. Harga murah untuk nilai pelanggan yang terbatas. Harga mahal untuk nilai pelanggan yang premium. Kemampuan Pelanggan mempersepsi nilai produk akan  menyerap perkembangan produk yang ikut menentukan arah perkembangan atau market driven selain market driving atau pengembangan teknologi semata.

Produk konsumtif misalnya smartphone terlihat sekali perubahannya dari waktu ke waktu secara cepat. Sedangkan teknologi yang baru semakin bertambah kecepatannya dari 2G ke 3G bahkan sampai 4G. atau kemampuan memory yang semakin besar tidak hanya 8 GB tetapi menjadi 16 GB bahkan 32 GB, 64 GB dan seterusnya. Demikian juga perkembangan kamera dari yang semakin canggih, dan juga kecepatan RAM-nya dan sebagainya. Persaingan antar merek sangat intens dan sangat cepat yang dipandang disruptif. Setiap spesifikasi produk punya segmen tersendiri. Butuh kejelian pemasar untuk mengenali target segmen seperti ini agar pemasar tetap survive di era disrupsi demikian. Namun gejolak masyarakat tidak seperti kondisi aplikasi teknologi di bisnis yang menyentuh masyarakat. Mengapa? Karena smartphone yang lama masih bisa dipakai namun  dengan kemampuan terbatas. Di lain pihak aplikasi gojek online membuat gojek tradisional merasa kehilangan penumpang, padahal yang terjadi munculnya fenomena segmen pasar baru atau pergeseran pasar.

Melihat perkembangan demikian maka bisa dipahami bahwa terjadi  pasar yang semakin terfragmentasi atau tersegmentasi menjadi kelompok yang spesifik, menjadi ceruk pasar atau market niche. Bahkan market cenderung individualized, setiap konsumen bisa menentukan produk atau jasa yang diharapkan. Produk yang bagus tidak lagi dipandang bagus ketika tidak bisa didapatkan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Konsumen ingin produk yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas dan mudah didapat. Kemudian muncul fenomena go-food, dimana aplikasi teknologi menjadi solusi. Muncullah segmen konsumen yang butuh pengiriman makanan. Demikian juga ada segmen unik yaitu bisnis sewa kasur untuk hotel atau tempat penginapan yang butuh extra bed dimusim liburan dan sebagainya.