BKIPM Tawarkan Bahan Baku Pengganti Surimi

704
OLAH IKAN : Para karyawan pabrik PT Indomina Cipta Agung, sedang serius bekerja. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OLAH IKAN : Para karyawan pabrik PT Indomina Cipta Agung, sedang serius bekerja. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak tujuh pabrik pasta ikan (Surimi) di jalur Pantura Jawa Tengah diminta melakukan diversifikasi bahan baku. Hal itu untuk menyiasati minimnya hasil tangkap ikan akibat pelarangan cantrang.

Tujuh pabrik surimi tersebut meliputi PT Bluesea Industry di Pekalongan, PT Bintang Karya Laut di Rembang, PT Holimina Jaya di Rembang, PT Indoseafood di Rembang, PT Namkyung di Rembang, PT Sinar Bahari Agung di Kendal, dan PT Sinar Mutiara Abadi di Rembang. Tujuh pabrik surimi telah dikumpulkan untuk menggali diversifikasi bahan baku.

“Kenapa tidak dilakukan perluasan ruang lingkup produksi. Padahal surimi terbaik di dunia berasal dari Indonesia. Kualitasya jauh di atas Vietnam, Kamboja, maupun Thailand,” kata Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jawa Tengah, R Gatot Perdana, dalam kunjungannya ke pabrik PT Indomina Cipta Agung, kemarin.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan bahwa cantrang saat ini memang boleh dipergunakan kembali. Namun, bisa saja sewaktu-waktu pemerintah kembali melarangnya. “Beberapa alternatif bahan baku untuk memacu kinerja ekspor, mulai dari rajungan, ikan tengiri, cumi, dan udang,” lanjut Gatot.

Pabrik surimi tersebut, menurutnya, sudah lama menjalin kerjasama ekspor dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) Jateng. “Dari total 48 pabrik pengolahan ikan, tujuh di antaranya memproduksi pasta ikan untuk diekspor ke negara-negara Asia Pasifik macam Tiongkok, Thailand dan Taiwan,” imbuhnya.

Aktivitas ekspor surimi saat ini menduduki peringkat keempat dari total ekspor produk perikanan dari Jawa Tengah. Dari data komoditas ekspor pada 2017, ekspor surimi mencapai 2.708 ton atau setara Rp221 miliar.

Sedangkan, penyumbang ekspor produk perikanan di Jateng lainnya yaitu rajungan mencapai 3.228 ton atau setara Rp 1,2 triliun dan udang mencapai 3.320 ton atau setara Rp515 miliar.

Kepala Produksi PT Indomina Cipta Agung, Ahong mengaku kendala perusahaan olahan sefood adalah masalah bahan baku yang selama ini diperoleh dengan menggunakan alat tangkap ikan Cantrang. “100 persen cantrang sangat membantu. Tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga nelayan,” katanya

Untuk itu pihaknya meminta agat penggunaan cantrang diatur kembali oleh pemerintah jangan sampai ada pelarangan. “Kalau dihentikan, dampaknya tidak hanya pabriknya saja, tetapi juga nelayan.” imbuhnya. (hid/ida)