Oleh: Endah Saraswati SPd MM
Oleh: Endah Saraswati SPd MM

RADARSEMARANG.COM – PENYANDANG disabilitas merupakan sosok yang mempunyai keterbatasan fisik, mental, intelektual maupun sensorik dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, penyandang disabilitas memerlukan perhatian dan penanganan dari berbagai pihak. Sebenarnya pemerintah telah menaungi para penyandang disabilitas dengan beberapa kebijakan. Seperti UUD 1945 pasal 27 ayat 1, UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas juga UU Nomor 4 Tahun 1997.

Dengan kebijakan tersebut diharapkan kaum disabilitas dapat berperan serta dalam kegiatan pembangunan. Namun kebijakan pemerintah ini tidak diimbangi dengan ketersediaan sekolah-sekolah khusus yang memadai dan menjangkau semua daerah. Hal ini berdampak bagi penyandang disabilitas yang berasal dari keluarga kurang mampu tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Biaya pendidikan yang tinggi, kesulitan transportasi membuat banyak penyandang disabilitas berpotensi drop out, karena sekolah-sekolah reguler menolak keberadaan mereka. Hal tersebut jelas akan menghambat pembangunan dalam bidang pendidikan dan program wajib belajar gagal mencapai misinya. Untuk itu perlu kiranya meningkatkan perhatian terhadap penyandang disabilitas yang belum mendapatkan pelayanan maksimal dengan menciptakan pendidikan inklusif.

Menurut Satub dan Peck (Tarmansyah,2007:83), pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas. Dengan demikian pendidikan inklusif adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menggabungkan pendidikan reguler dengan pendidikan khusus dalam satu sistem persekolahan untuk mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi lainnya. Dengan pendidikan inklusif ini diharapkan penyandang disabilitas terlatih kemandirian dan kemampuan interaksinya, menciptakan kesetaraan dan memupuk rasa percaya diri. Disamping itu dengan pendidikan inklusif akan mempermudah akses bagi kaum disabilitas sehingga tidak putus sekolah.

Untuk mencapai tujuan di atas, perlu diupayakan sebuah kurikulum yang mencerminkan setting inklusi. Namun sebenarnya, kurikulum inklusif ini dapat mengadop kurikulum 2013 dengan pembaharuan pada hal-hal yang dianggap perlu seperti modifikasi pada alokasi waktu, materi, proses belajar mengajar, lingkungan belajar, sarana prasarana, juga evaluasi pembelajaran. Dengan kurikulum ini, kaum disabilitas dapat melanjutkan sekolah di sekolah-sekolah reguler dengan nyaman. Hal ini juga tertuang dalam UU Nomor 28 Tahun 2002  yang mengatur bangunan gedung sekolah, yakni setiap institusi pendidikan wajib menyediakan sarana prasarana yang menyediakan kemudahan bagi para kaum disabilitas dalam mengakses fasilitas pendidikan.

Ketika persiapan secara fisik sudah dilakukan, regulasi pun sudah digulirkan, maka hal yang tak kalah penting adalah menyiapkan softskill. Kemampuan berkomunikasi secara baik, kemampuan mempimpin dengan bijak, pemberian motivasi, sikap sabar dan kerjasama perlu dilatih dan disiapkan sebelum membuka kelas inklusif. Para pemangku kepentingan, peserta didik, guru karyawan dan masyarakat perlu diedukasi tentang pendidikan ini.

Kampanye terus-menerus yang mencitrakan positif perlu dilakukan. Kampanye ini dapat dilakukan melalui LSM peduli disabilitas dan paguyuban orang tua peserta didik. Dengan pelibatan orangtua peserta didik dalam mengkampanyekan kelas inklusif ini, maka friksi-friksi yang timbul dapat diminimalisasi dan program pendidikan inklusif semakin mudah diterima.

Program-program sekolah seperti forum diskusi, kunjungan ke panti asuhan, kunjungan ke  sekolah-sekolah luar biasa dapat dilakukan untuk melatih kepekaan , mengasah empati meningkatkan kecerdasan emosi sehingga timbul rasa saling menghormati dan menghargai sesama manusia.

Dengan teredukasiya semua lapisan masyarakat, maka akan menciptakan masyarakat inklusi, yaitu  sebuah kondisi masyarakat yang menghargai adanya perbedaan dalam kebersamaan. Dalam masyarakat ini para penyandang disabilitas akan merasa sejajar dengan masyarakat pada umumnya dan membuat hidup mereka menjadi lebih bermakna karena adanya penghargaan atas hak-haknya sebagai manusia.  (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 1 Semarang